For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen. -Romans 11:33-

Monday, May 26, 2014

Medical Mission Course

Tidak terasa, ternyata sudah hampir setahun saya tidak menge-post tulisan di blog ini. Dalam setahun itu, banyak pula yang terjadi dalam hidup saya. Long story short, saya benar-benar merasakan bahwa usia 25 tahun saya benar-benar monumental. Karena pertolongan Tuhan, akhirnya saya lulus menjadi dokter gigi. Saya pun pertama kali melakukan perjalanan keluar negeri di usia saya yang ke-25. hehehe.. Selain itu, saya pun berkesempatan untuk mengikuti suatu kegiatan yang mungkin dulu tidak pernah terpikirkan akan sungguh-sungguh saya ikuti, MMC. dan di MMC inilah saya banyak belajar dan disadarkan. Ini adalah laporan pribadi yang saya buat untuk laporan kelompok MMC, saya harap ini dapat merangkum semua cerita dan pengalaman saya selama beberapa bulan yang luar biasa itu:

 

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Mazmur 139 : 7-10 (TB)

Penggalan ayat di atas adalah salah satu bagian Firman Tuhan yang dibawakan oleh Kak Iin saat ibadah pengutusan Medical Mission Course (MMC) IX di Kapel RSU Bethesda Serukam, Kalimantan Barat. Saya ingat saat itu Kak Iin membawakan tentang Yunus, Sang Nabi Allah, yang berusaha mengingkari panggilan atas dirinya dengan pergi ke Tarsis. Namun, Tuhan yang Maha Kuasa tidak pernah gagal dengan rencana-Nya. Di akhir kitab kita tahu bahwa rencana Allah lah yang terjadi: Yunus akhirnya pergi ke Niniwe dan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Ketika mendengar bagian kitab Yunus ini saat ibadah, saya tersenyum karena mengingat bahwa saya 3 bulan yang lalu saya sangat mirip dengan Nabi Yunus, berusaha mengingkari panggilan Tuhan. Namun, sekali lagi Tuhan yang Maha Kuasa tidak pernah gagal dengan rencana-Nya pada saya. Ketika Kak Iin melanjutkan khotbah dengan menyampaikan bagian Mazmur 139 ini, saya semakin yakin kalau saya tidak akan pernah bisa “lari” dari panggilan Tuhan.

Saya Marisa Thimang, 26 tahun, dokter gigi yang lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada bulan Oktober 2013. Seperti kebanyakan orang, saat itu saya mengalami kebingungan tentang apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Saya harus menunggu hingga akhir Januari sampai saya bisa Ujian Kompetensi Dokter Gigi (UKDGI). Jika ditambah dengan waktu menunggu pengumuman UKDGI dan waktu untuk mengurus STR yang masing-masing memakan waktu sebulan, maka total saya memiliki waktu 5 bulan sampai saya bisa betul-betul praktek secara resmi. Apa yang akan saya lakukan selama 5 bulan itu?? Pada saat itu saya sudah bergabung dengan sebuah interest group yang bernama “Dokter Gigi Misi”. Di situ saya diperkenalkan tentang misi, dibukakan bahwa profesi medis adalah profesi yang strategis untuk melakukan misi, dan kemudian diajak untuk melakukan mission trip untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Dari seorang teman Dokter Gigi Misi inilah saya diberi tahu tentang kegiatan MMC yang akan dimulai pada bulan Februari 2014.

Sebenarnya saya sudah pernah mendengar tentang MMC sebelumnya dari Monica (MMC VII) dan sudah mendengar betapa MMC akan sangat memberkati. Namun, saat itu ada beberapa hal yang menjadikan saya ragu-ragu mendaftar ikut MMC. Mulai dari ketakutan bahwa motivasi saya hanya karena “tidak ada perkerjaan lain”, kekhawatiran soal biaya, ijin orang tua, dan juga beberapa pelayanan lain yang masih harus dikerjakan di Jakarta. Setelah saya berpikir-pikir dan berkonsultasi dengan orang tua, saya memutuskan untuk tidak medaftar MMC di tahun ini tetapi akan mencoba mendaftar di tahun depan. Keinginan untuk mengikuti MMC pun terlupakan sampai batas pengembalian formulir pendaftaran di awal bulan Januari 2014 terlewati. Pemikiran tentang mengikuti MMC timbul kembali di pertengahan bulan Januari, ketika saya mengetahui kalau ada beberapa orang yang tidak jadi mengikuti MMC kali ini dan saya ditawarkan kesempatan untuk mendaftar menggantikan teman-teman yang tidak bisa berangkat tersebut. Meskipun saya mulai merasa gelisah, tetapi saat itu saya masih mengeraskan hati. Sampai keesokan harinya, setelah saya mendengar sharing seorang teman tetang mengikuti panggilan Tuhan atas hidupnya di suatu acara, saya jadi makin gelisah tentang MMC. Saya mulai berpikir jangan-jangan saya sudah mengeraskan hati dan tidak mau mendengar panggilan Tuhan yang bahkan sudah 2 kali memanggil saya. Akhirnya malam itu saya berdoa dan menyerahkan kegelisahan saya pada Tuhan. Saya berpikir, kalau Tuhan memang berkehendak saya pergi, pasti Tuhan juga yang akan memberikan jalan, meskipun saat itu terlihat mustahil terutama dari segi ijin orang tua dan biaya. Besok paginya, saya kembali mengungkapkan niat saya untuk mengikuti MMC kepada orang tua saya. Singkat cerita, orang tua saya mengijinkan dan kekhawatiran biaya pun tercukupi. Saya melihat ini adalah konfirmasi dari Tuhan agar saya mengikuti MMC. Dalam waktu yang sangat singkat saya mengisi formulir pendaftaran MMC yang akhirnya diterima untuk dapat mengikuti MMC-IX.

Meskipun sudah pernah mendengar tentang MMC sebelumnya, saya masih berpikir kalau MMC hanya program untuk mempersiapkan seorang dokter yang akan pergi bertugas ke daerah dari segi medis dan spiritual. Tetapi sepertinya….saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa daripada itu. Sejak kami memulai program MMC-IX ini di OMF tanggal 9 Februari 2014 dan berlanjut ke RSUB Serukam, saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru terutama pengertian tentang misi. Awalnya pengertian saya tentang misi hanya mencakup “pergi ke daerah terpencil dan membuat orang-orang di sana menjadi Kristen”, tetapi kemudian pemikiran ini dirombak menjadi pengertian misi yang lebih utuh. Lewat pembicara-pembicara dan Kursus Kairos yang kami ikuti di Serukam, saya menjadi mengerti bahwa misi bukanlah hanya tugas seorang pendeta atau misionaris full time, tetapi menjadi tugas semua orang Kristen, termasuk saya si dokter gigi baru ini. Saya juga menjadi mengerti kalau bermisi tidak hanya dilakukan di daerah pedalaman, tetapi dimana saja, kapan saja, dan melalui banyak cara. Saya bersyukur kalau selama MMC ini kami mendapatkan kesempatan untuk melihat banyak contoh orang yang bermisi dalam hidupnya, baik itu mereka yang berprofesi medis ataupun profesi lainnya. Saya dapat melihat contoh kehidupan misi yang luar biasa dari orang-orang yang bekerja di RSUB Serukam, yang memilih meninggalkan “kehidupan kota” demi melayani masyarakat di daerah terpencil di Kalimantan. Melalui tamu-tamu yang datang sebagai pembicara dalam MMC kali ini pun saya bisa banyak belajar bagaimana Tuhan dapat menggunakan hidup setiap orang untuk menggenapi rencana-Nya bagi dunia ini. Kami berkesempatan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang : dokter, dokter gigi, suster, hamba Tuhan full time, teknisi, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Namun, saya dapat melihat satu kesamaan dari kehidupan orang-orang ini, yaitu mereka menyerahkan diri dan profesinya untuk dipakai Tuhan menyatakan kasih Allah bagi manusia di dunia ini.

Dari sisi medis, saya merasa sangat diperlengkapi. Dulu saya berpikir kalau seorang dokter gigi dikirim ke daerah terpencil, dengan terbatasnya alat dan bahan juga ketiadaan listrik, maka akan sangat sedikit hal yang bisa dikerjakan. Namun, melalui MMC kali ini, pandangan saya kembali dirombak. Saya bersyukur kalau dalam MMC-IX kali ini, jumlah dokter umum dan dokter gigi berimbang, sehingga panitia membuat program khusus dokter gigi dan kami berkesempatan mempelajari banyak hal khusus kedokteran gigi. Saya juga bersyukur Tuhan mendatangkan dokter-dokter gigi dari banyak tempat untuk mengajar kami : drg Susan, drg Hedwin, drg Jenny dari Solo, drg Bruce Walker dari Bandung, dan drg Jay dari Salatiga. Dari mereka kami banyak belajar tentang peran dokter gigi dalam ladang misi. Kami juga belajar berbagai skill kedokteran gigi yang akan berguna ketika kami praktik, khususnya ketika kami praktik di daerah pedalaman. Hal lain yang menarik bagi saya adalah kami memiliki banyak sekali kesempatan untuk melakukan penyuluhan, baik itu di TK Serukam, SD sekitar, ataupun di desa-desa ketika kami live in. Kami banyak belajar tentang materi dan teknik penyuluhan. Selain itu kami juga mendapatkan banyak masukan ide yang akan dapat kami lakukan untuk meningkatkan kesehatan gigi di daerah kami masing-masing nantinya. Namun, secara pribadi, melalui penyuluhan-penyuluhan ini saya menjadi sadar kalau begitu banyak orang (khususnya anak-anak sekolah) yang belum mengerti tentang menjaga kesehatan mulutnya, bahkan untuk menyikat gigi sekalipun. Mereka juga memiliki akses yang sangat terbatas untuk mendapatkan pelayanan dokter gigi di daerahnya. Hal ini menyadarkan saya kalau dokter-dokter gigi di manapun memiliki tugas yang sangat besar dalam bidang promotif dan preventif, yang membuat pendapat awal saya tentang minimnya peran dokter gigi di daerah menjadi sangat salah. Satu hal baru yang saya pelajari dalam MMC ini adalah mendoakan pasien. Jujur saja, saya tidak pernah berdoa bersama pasien sebelum atau setelah bekerja. Tetapi di MMC ini kami diberi kesempatan, diajarkan, dan dibiasakan untuk berdoa sebagai salah satu cara menyampaikan Injil kepada pasien.

Selain dari segi misi dan medis, saya menikmati begitu banyak hal selama 3 bulan menjalani MMC. Saya menikmati morning devotion kami setiap pagi, saya menikmati memulai hari dengan memuji Tuhan dan sharing Baca Gali Alkitab (BGA) kami pagi itu. Meskipun kami BGA dari bahan yang sama yaitu Kitab Yohanes, saya sangat terkagum-kagum karena banyak hal berbeda yang bisa didapat masing-masing orang dari satu perikop yang sama, dan hal ini memperkaya perenungan saya hari itu. Saya juga menikmati life sharing setiap tamu maupun orang-orang yang mengajar kami yang diadakan hampir setiap malam. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing; bagaimana mereka mengenal Tuhan, lahir baru, dan akhirnya mengerjakan panggilan Tuhan dalam hidupnya, termasuk bagaimana mereka membangun keluarga yang mengasihi Tuhan. Dari life sharing saya bisa melihat bahwa Tuhan memanggil setiap orang dengan cara yang berbeda-beda untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Saya juga belajar bahwa kita tidak perlu takut untuk melangkah, karena jika kita mengambil keputusan yang salah pun, Tuhan akan menolong kita untuk kembali masuk dalam rencana-Nya. Di akhir minggu saya selalu menikmati waktu pause and pondering yang dijadwalkan bagi kami. Meskipun awalnya sangat sulit bagi saya, tetapi akhirnya saya bisa menikmati waktu khusus tersebut untuk diam, memuji, dan berdoa kepada Tuhan. Saya juga menikmati waktu-waktu KTB bersama kelompok Desa Binaan Lao Serukam dan Kak Donda sebagai Pemimpin KTB. Sangat indah ketika kami bisa sharing pergumulan kami masing-masing dan saling mendoakan. Waktu-waktu mentoring dengan Ibu Melissa juga merupakan saat-saat yang saya nikmati. Terima kasih untuk Ibu Melissa yang sudah sangat menolong saya mengenali diri saya sendiri, menolong saya ketika saya menghadapi pergumulan, dan berkenan untuk sharing sehingga saya bisa banyak belajar dari kehidupan Ibu Melissa.

Selama MMC kami memiliki banyak kesempatan untuk melayani. Kami yang berjumlah 10 orang ini terbagi menjadi 2 kelompok desa binaan, yaitu Lao Serukam dan Rancang. Saya, dan 4 teman lainnya berkesempatan untuk melayani di Desa Lao Serukam. Pelayanan desa binaan ini merupakan hal yang baru bagi kami. Meskipun kami sudah pernah melayani di persekutuan ataupun gereja masing-masing, tetapi tidak satupun dari kami yang pernah menjadi guru sekolah minggu ataupun berkhotbah di depan jemaat, sehingga ketika kami diberi tugas untuk melayani di dua bagian tersebut, kami mejadi sangat khawatir. Namun, melalui kekhawatiran itu, kami belajar untuk mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Kami mempersiapkan materi sekolah minggu di sepanjang minggu tersebut, kami juga saling mendukung bagi teman yang akan bertugas membawa Firman di kebaktian umum minggu tersebut, dan yang terpenting kami saling mendoakan satu sama lain dan mendoakan jemaat Desa Binaan kami. Selain itu kami juga pergi live in di beberapa daerah di Kalimantan Barat : Sukadana, Nanga Baram, dan Tengon. Saya ingat setiap sebelum kami pergi live in, kami selalu mengadakan persekutuan doa, termasuk ketika kami akan pergi ke Tengon. Kami mendoakan persiapan kami masing-masing, perjalanan kami, pelayanan kami di desa tersebut, dan orang-orang yang akan kami layani. Bahkan kami diminta untuk menghubungi keluarga untuk mendoakan kami ketika pelayanan di Tengon. Hal ini membuat saya belajar bahwa doa adalah tiang dari pelayanan, doa-lah yang akan mendukung dan mempersatukan semua persiapan yang telah kita lakukan. Perjalanan untuk mencapai daerah-daerah live in tersebut sunguh sangat tidak mudah, melalui sungai dan darat. Medan yang sulit kami lalui ketika kami pergi ke Desa Tengon. Kami harus melewati jalan yang tidak rata, berlumpur, melewati beberapa sungai, sempat terjebak lumpur beberapa kali, bahkan jatuh dari sepeda motor. Meskipun begitu, saya sangat menikmati pelayanan di desa Tengon, secara khusus pelayanan anak yang kami lakukan di sana. Sangat senang rasanya melihat anak-anak yang begitu bersemangat bernanyi memuji Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan. Pelayanan di desa Tengon ini mengajarkan banyak hal kepada saya, khususnya kebergantungan kepada Tuhan. Perjalanan yang sulit, koordinasi yang sulit dengan tim yang berada di dusun yang lain, dan beberapa hal yang berjalan di luar rencana membuat kami belajar untuk menyerahkan diri, anggota tim, dan pelayanan kami kepada Tuhan. Perjalanan pulang kami pun tidak kalah sulitnya. Salah satu mobil kami rusak sehingga saya dan beberapa teman harus duduk di mobil bak terbuka bersama dengan barang-barang dan sayur-sayuran sepanjang perjalanan kembali ke Serukam. Tetapi ketidaknyamanan itu terbayar ketika kami menikmati pemandangan dan melihat bintang serta kunang-kunang selama perjalanan, hal-hal sederhana yang sulit didapatkan ketika kami berada di kota besar. Kami menikmati ciptaan Tuhan itu dan secara spontan mengatakan : How great Thou art!!

Hal yang tidak kalah saya syukuri dalam mengikuti MMC ini adalah karena Tuhan mengijinkan saya untuk bertemu dengan 9 orang peserta MMC yang lain : Bang Sapan, Bang Isak, Kak Rani, Kak Priska, Reny, Nikke, Tina, dan Achel. Awalnya, bertemu dengan 9 orang lain yang semuanya memiliki kecenderungan untuk dominan adalah hal yang sulit bagi saya. Tetapi akhirnya saya menyadari kalau ini juga merupakan proses yang Tuhan ijinkan untuk kami lewati bersama. Secara pribadi saya belajar untuk bekerja sama dalam kelompok besar, saya belajar untuk lebih menerima perbedaan bahkan kegagalan teman dalam tim, dan saya belajar untuk menghargai ketua tim saat itu walaupun sang ketua berusia lebih muda daripada saya. Saya juga menikmati waktu-waktu kami bersama-sama, ketika sharing, ngobrol ketika makan, bahkan ketika melakukan kegiatan bersama. Perbedaan cara pandang dan pemikiran masing-masing akhirnya membuat kami banyak belajar satu sama lain dan bukannya bertengkar, meskipun jujur saja hal ini sangat sulit di awal perjalanan. Kemudian kami bertemu dengan dr Jordan Lim, dokter umum dari Singapura yang sedang belajar misi di Serukam. Kehadiran Jordan makin menambah warna dalam kehidupan kelompok kami. Team building bersama Ka Irene juga sangat menolong kami untuk mengerti makna kesatuan tim dan bagaimana cara mencapainya.

Saya kagum dengan cara Tuhan bekerja dalam hidup saya. Saya bersyukur karena Tuhan telah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti MMC ini, saya bersyukur karena Tuhan kembali memanggil saya untuk kedua kalinya ketika saya mencoba lari dari panggilan Tuhan, dan saya bersyukur kalau pada akhirnya dimampukan untuk memutuskan mengikuti MMC ini. Masih banyak lagi hal yang saya nikmati dan pelajari selama MMC, yang bahkan tidak tertulis dalam laporan yang sudah sangat panjang ini. Namun yang pasti, saya tidak menyesal telah mengambil keputusan yang tidak populer untuk mengikuti MMC setelah lulus, bukannya langsung bekerja. Perjalanan selama MMC telah mengajarkan saya banyak hal tentang berjalan bersama Tuhan di dalam hidup. Saya ingat ketika memulai MMC, kami diberikan pesan untuk “be flexible”. Saya pikir itu hanya flexible dalam masalah jadwal, tetapi tidak mengira kalau saya juga harus flexible kepada tuntunan dan bentukan Tuhan dalam hidup. . Sama seperti lagu yang kami pelajari dalam MMC: I know God makes no mistakes, He leads in every path I take. Saya yakin kalau Tuhan tidak pernah salah dalam tuntunan-Nya. Saya berdoa agar Tuhan boleh memampukan kita untuk terus melakukan panggilan-Nya dalam hidup, kita boleh selalu peka akan tuntunan Tuhan, dan kita semua boleh didapati setia sampai akhir. Kiranya Tuhan menolong kita.

Soli Deo Gloria.

--------------============--------------

 

Laporan yang panjang ya? hahaha… Namun, bahkan laporan yang panjang ini pun tidak dapat mengungkapkan dengan persis setiap kejadiannya dan bagaimana perasaan ketika mengalami kejadian tersebut. Satu hal yang tidak saya tuliskan dalam laporan adalah, saya sangat bersyukur Tuhan telah menghadirkan orang-orang yang sangat menolong saya sampai pada akhirnya saya bisa mengikuti MMC ini. Kalau dipikir-pikir, kalau saya ikut MMC pun tidak ada keuntungannya untuk mereka, tapi saya merasa mereka begitu memperjuangkan saya untuk bisa ikut. Saya sangat mengucap syukur pada Tuhan atas mereka. Dan saya berdoa, biarlah setelah ini saya juga mampu melakukan hal yang sama, mengajak orang-orang untuk bisa mengikuti MMC. Bukan demi saya, bukan demi panitia MMC, tapi agar orang lain juga merasakan berkat-berkat yang sama seperti yang saya dapatkan selama saya mengikuti MMC. Soli Deo Gloria.

 

 

Marisa Thimang

Friday, July 12, 2013

Stay With Me…!!!

Ini adalah minggu kedua saya menjadi anggota di salah satu pusat kebugaran di Jakarta. Eh? Kenapa tetiba saya masuk menjadi anggota? Apa karena ikut-ikutan atau gegayaan semata? Hahaha.. Tentu tidaaakkkkkk…. Sebetulnya sekitar 3 tahun lalu, saya juga pernah menjadi anggota di klub lain. Namun, karena saat itu bersamaan dengan pengerjaan karya ilmiah (semacam skripsi) , ditambah dengan aktifitas mengajar yang cukup padat waktu itu, dan ada juga faktor jarak antara rumah-klub yang jika dihitung, effort saya untuk pulang mungkin hampir sama seperti lari-lari di treadmill selama 2 jam (agak berlebihan mungkin..hahaha); akhirnya kegiatan ngegym ini terbengkalai dan saya memutuskan untuk keluar dari klub tersebut.

Jadi apa alasannya? Hmm..pertama alasan kesehatan. Ini juga yang menjadi motivasi pertama saya ngegym 3 tahun yang lalu. Sedikit orang yang tahu kalau saya memiliki masalah kesehatan yang, kalau untuk saya sih, penting dan mendesak, tapi dokter saya hanya berkata dengan santai “Ah, ini sih karena kamu kurang olahraga aja..” Hahaha.. Maka dari itu saya cepat-cepat mendaftar menjadi anggota gym, dan setelah sebulan memang ‘selesai’ sakitnya. Namun, seiring dengan ‘selesai’-nya periode gym saya, maka ‘selesai’ jugalah sembuhhnya penyakit itu. Dan selama 3 tahun, karena saya juga jarang berolahraga, maka si penyakit kambuh terus. Hahahaha.. Sekarang, saya rasa saya memiliki waktu luang yang cukup untuk berolahraga lagi. Maka itu, saya rasa saat ini juga saat yang tepat untuk kembali ‘menghilangkan’ penyakit tersebut. Hahaha… Lagipula saya ingat masa-masa saat ngegym dulu. Rasanya tubuh saya jadi lebih enteng setelah satu bulan berolahraga. Nah, kenapa keadaan yang baik itu tidak saya adakan lagi sekarang?

Alasan kedua, karena saya butuh kegiatan pengalih perhatian. Saya sadar kalau saya dibiarkan dalam suatu keadaan yang kosong dan tanpa kegiatan, maka pikiran saya akan terbang kemana-mana, sehingga menghasilkan pikiran-pikiran aneh yang akhirnya berdampak buruk pada perasaan dan hidup saya. Setelah beberapa lama saya merasakan capek yang luar biasa menjadi seperti itu, maka saya memutuskan untuk menjadi “bahagia” saja. Dengan motto “I'm getting my life back”, saya mencoba mencari cara untuk mengisi “waktu luang” saya. Pada awalnya, saya mencoba jalan-jalan ke mall atau ke toko buku. Namun, akhirnya saya sadar kalau saya tidak bisa melakukan itu terus-menerus. Terlalu menghamburkan uang, kesenangan yang saya dapat juga hanya sebentar, dan yang paling penting, saya jadi mengonsumsi fast food setiap hari. Erggghhh… Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengisi “waktu luang” tersebut dengan berolah raga. Toh dengan berolah raga, akan dibentuk hormon yang kemudian akan memengaruhi perasaan sehingga mood menjadi baik. Sama seperti ketika seseorang makan cokelat. It’s easy to be happy, right?

Nah, kalau di klub, saya selalu suka mengikuti kelas-kelas training yang disediakan. Hmm… ya rasanya memang lebih menyenangkan sih daripada melakukan olahraga cardio dengan alat sendirian selama berjam-jam. Maka, selama 2 minggu ini, saya mencoba beberapa kelas. Tidak semua memang. Saya hanya mengikuti kelas-kelas yang saya suka, pernah saya lakukan sebelumnya, dan kalaupun mencoba kelas baru, saya memilih kelas yang saya pikir bisa saya lakukan. Bagaimana dengan kelas yoga? Hahaha.. mungkin nanti dulu ya. Saya belum kuat iman untuk ikut kelas yang satu itu. Kelas favorit saya adalah: BODY COMBAT!! Yuhuuuu…!! Ini adalah kelas cardio dengan melakukan gerakan-gerakan yang diadopsi dari bela diri, seperti karate, boxing, muay thai, dll. Apa yang menarik? Ini bisa menjadi pelampiasan emosi kadang-kadang. Hahaha.. Jadi, gerakan tonjok, jab, atau tendang-nya pake hati dan (sedikit) emosi, sehingga setelah selesai sesi Body Combat-nya, selesai juga kesalnya. Hahahaha… Oke banget kaaann??

Menariknya, waktu saya mengikuti kelas Body Combat hari Rabu kemarin, sang trainer meminta kami untuk mengangkat salah satu kaki ke arah samping, meluruskannya, dan menahannya sampai 10 hitungan. Untuk saya yang keseimbangannya agak-agak kurang baik, itu adalah masalah. Dan benar saja, saya kesulitan melakukan gerakan itu dan jatuh beberapa kali. Tapi kemudian si trainer bilang “Look at someone who doesn’t move! Stay with me!”. Saya kaget juga dengan pernyataan ini, karena hal yang sama dikatakan oleh trainer Body Balance di kelas yang saya ikuti hari Senin minggu sebelumnya. Saat itu kami diminta membuat sikap kapal terbang dimana saya (seperti biasa) kesulitan menjaga keseimbangan. Lalu si trainer bilang “Look at one point that doesn’t move!” Sayangnya, waktu saya mudah terdistraksi dengan teman-teman lain yang bergoyang-goyang karena kehilangan keseimbangan juga dan akhirnya gagal lah saya mempertahankan posisi kapal terbang itu. Namun, di kelas Body Combat kali ini saya berusaha keras berkonsentrasi dengan memilih melihat ke satu titik yang benar-benar tidak bergerak, yaitu tepi jendela. Dan benar saja, saya bisa mempertahankan posisi dengan satu kaki terangkat (cukup) lurus ke samping selama 10 hitungan, sebanyak 4 set. *bangga* hahahaha…

Setelah sesi berakhir saya pun berpikir kembali: “Betul juga ya. Melihat ke satu titik yang tidak bergerak akan membantu kita untuk berkonsentrasi. Kalau kita bisa fokus berkonsentrasi pada suatu titik yang tidak berubah, maka kita akan bisa mempertahankan keseimbangan kita dan meneruskan ‘posisi’ kita dengan benar sampai waktunya selesai. Namun, begitu fokus kita hilang dan mulai terdistraksi, maka mulailah juga kita kehilangan keseimbangan dan akhirnya gagal untuk mempertahankan ‘posisi’ tetap seperti seharusnya” Saya pikir, begitu juga dengan kehidupan. Semua bergantung pada fokus kita. Kalau fokus kita tetap dan tidak bergerak, maka harusnya bisa pula kita untuk melakukan “apa yang harusnya kita kerjakan”. Sayangnya, apa sih yang tidak berubah dalam kehidupan ini? Orang akan berubah, keadaan akan berubah, bahkan hati orang pun bisa berubah. Bukankah perubahan adalah hal yang pasti terjadi, selain kematian? Kemudian saya ingat seorang teman saya pernah berkata, “Jangan pernah berharap pada manusia, manusia pasti mengecewakan. Berharap saja pada Tuhan, tidak akan mengecewakan.” Iya. Satu-satunya yang tidak berubah hanya Tuhan. Seperti bisa kita dengar di lagu Sekolah Minggu : “Tuhan Yesus tidak berubah..tidak berubah..tidak berubah..” Seyakin itu anak-anak sekolah minggu bisa menyanyikan lagu tersebut, kenapa kita orang-orang yang sudah ‘dewasa’ malah lupa dan mencoba mencari fokus kehidupan yang lain? Apalagi kalau kita membicarakan kehidupan pelayanan. Sudah tentu fokusnya harus Tuhan, yang tidak akan berubah. Kalau fokus pelayanan kita bukan Tuhan, dan si ‘fokus’ mulai berubah dan menjadi ‘mengecewakan’, maka hancurlah juga pelayanan kita.

Hal lain yang mendapatkan perhatian saya 2 minggu ini adalah ketika di tengah-tengah sesi, baik itu Body Combat atau Body Balance atau kelas yang lain, seringkali para peserta mulai kelihatan kelelahan dan kesulitan untuk mengikuti gerakan yang sudah sampai ke ‘puncak’-nya. Atau untuk gerakan inti yang diulang hingga beberapa set, kadang para peserta sudah kelelahan untuk meneruskan. Namun, bukannya membiarkan peserta untuk beristirahat atau membiarkan peserta berhenti dan tidak melakukan gerakan, tetapi si trainer akan bilang “Stay with me! Stay with me!” dan dia akan meneruskan gerakan ke set selanjutnya hingga selesai. Saya pikir itu adalah cara si trainer untuk mengembalikan fokus peserta sehingga peserta yang tadinya sudah kelelahan, bisa kembali fokus dan memacu dirinya untuk menyelesaikan set tersebut bersama-sama dengan si trainer. Hal ini juga yang dikatakan oleh si trainer Body Combat saat melakukan gerakan keseimbangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dia mengatakan “Stay with me!” sambil kami bersama-sama menahan gerakan tersebut sampai 10 hitungan. Saya sendiri merasakan sih, kadang ingin menyerah dan berhenti juga jika gerakannya sudah mulai sulit dan tangan, kaki, atau punggung saya sudah merasa sakit. Namun, kalau saya bertahan dan kembali fokus kepada si trainer, saya akan memacu diri untuk meneruskan melakukan gerakan tersebut walaupun dengan, tentu saja, effort yang lebih besar. Dan akhirnya saya pun merasakan kepuasan ketika saya berhasil menyelesaikan set gerakan tersebut sampai selesai. Hahaha…

Kemudian saya membayangkan, “Jangan-jangan Tuhan juga bilang begitu ya. Ketika kita bilang kita punya masalah dalam kehidupan dan rasanya ingin berhenti saja, Tuhan bukannya bilang “Oke, silakan kamu berhenti dan tidak usah ngapa-ngapain lagi”, tapi Tuhan akan bilang seperti yang trainer itu bilang “Stay with Me. Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama””. Hahaha.. ini memang pemikiran yang agak random ya. Tapi bukankah di Matius 11: 28 Yesus berkata, “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”? Ketika kita mulai lelah, merasa capek dengan beban kehidupan yang ada, mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, lelah dengan keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan ketika kita sedang merasa sendirian; alih-alih meninggalkan Tuhan dan berhenti, harusnya kita tetap bersama Tuhan. Stay with Him. Saya pernah mendengar ucapan, yang kira-kira isinya “Berdoalah ketika kamu paling tidak ingin berdoa”. Iya. Tetap berdoa, saat teduh, dan ke gereja, bahkan yang rasanya hanya seperti rutinitas saja, akan menjaga kita tetap dekat dengan Firman Tuhan. Tetap dekat dengan Firman Tuhan akan kembali mengingatkan kita tentang janji Tuhan dan akan mengembalikan ‘fokus’ kita sehingga kembali menguatkan kita dalam menjalani kehidupan. Mungkin proses hingga ‘kembali fokus’ tidak akan semudah kelihatannya. Mungkin hal itu akan menjadi proses yang memakan waktu lama. Tapi biarlah kita boleh tetap ‘melekat’ pada Tuhan dan Roh Kudus akan bekerja dalam diri kita. And you know what? Yang membuat semuanya menjadi tambah indah adalah, kita tidak menjalani kehidupan kita sendirian, kita menjalaninya bersama Tuhan, Sang Empunya kehidupan itu sendiri. Sampai selesai. Rasanya sangat menyenangkan ketika tahu bahwa ada Pribadi yang selalu bersama-sama dengan kita saat kita menjalani kehidupan yang (saya rasa) semakin sulit dan akan terus semakin sulit ini. Begitu juga dalam kehidupan pelayanan, bukan? Stay with Him, dan kita akan bisa menyelesaikan tugas pelayanan kita, bersama-sama dengan Dia, Sang Empunya pelayanan itu. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia, bukan? Maka bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Lucu juga ya, pelajaran tentang kehidupan bisa didapat dari mana saja. Bahkan dari tempat berolah raga.

 

Ready to work out and ready to learn,

Marisa

Thursday, March 14, 2013

The Last Post in My 24 Years Old

Jam di sudut kiri komputer saya menunjukkan angka 22:47.. Itu artinya, dalam kurang lebih 1 jam 10 menit lagi, saya akan bertambah tua 1 tahun lagi. Hahaha.. Kenapa sih jadi sebegitu pentingnya? Karena tahun ini, saya akan berusia 25 tahun, usia dimana seharusnya menjadi sangat monumental buat saya (dan orang-orang lain juga mungkin).

Usia memang tidak berhubungan sama sekali dengan tingkat kedewasaan seseorang. Usia juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan pencapaian hidup dari seseorang. Hal-hal yang saya sebutkan di atas itu merupakan hasil dari pergumulan, kerja keras, dan kesediaan orang tersebut untuk dibentuk oleh setiap kejadian yang ada dalam hidupnya. Saya sadar, dalam beberapa tahun belakangan kemarin saya banyak melakukan kesalahan, dimana kesalahan terbesar yang saya lakukan setahun kemarin adalah: saya ngeyel sama Tuhan. Saya tidak cukup rendah hati untuk mendengar jawaban dan tuntunan Tuhan dan sangat yakin kalau saya yang paling tahu apa yang paling baik untuk hidup saya. Dan saya sudah melalui hal yang (menurut saya) sangat menyakitkan untuk belajar tentang hal itu.

Kadang-karang saya berpikir: “Kayaknya gw harus lebih hati-hati ya kalau mau minta sesuatu sama Tuhan. Takutnya, gw akan sangat kaget dan gak kuat dengan cara Tuhan untuk mengajarkan gw tentang hal itu.” Kenapa bisa berpikir seperti itu? Karena sejak dulu, bahkan mungkin sejak saya kecil, saya selalu berdoa untuk mendapatkan “yang terbaik” dari Tuhan. Dalam segala hal dalam hidup saya. Pendidikan, kehidupan berkeluarga, teman-teman, pasangan hidup, kehidupan ekonomi, pekerjaan….semuanya. Saya selalu yakin kalau Tuhan selalu akan memberikan yang terbaik untuk saya. Tapi, ada sesuatu yang saya lupa, atau bahkan mungkin tidak disadari Marisa-kecil ketika mengucapkan doa ini. Saya lupa kalau saya, sebagai manusia, diberikan kehendak bebas oleh Tuhan untuk memilih. Sayangnya, karena keberdosaan saya, tidak semua hasil dari pilihan saya itu adalah yang terbaik. Bahkan mungkin sebagian besar bukanlah yang baik, tetapi saya hanya menganggap itu “baik untuk saya”. Sehingga, dengan baik hatinya, Tuhan yang Maha Kasih itu membuang hal-hal yang “bukan terbaik” itu dari kehidupan saya. Caranya? Hahahaha… untuk saya sakit sekali memang. Apalagi, dengan keterbatasan akal saya, saya merasa “ini yang terbaik buat saya, tapi kenapa dijauhkan dari saya?”. Dan seringnya, sudah tahu akalnya terbatas tapi tetap ngeyel, saya tetap berpegang pada keinginan saya dan tidak membiarkan Tuhan bekerja untuk saya. Aaaahhh….dasar manusia. Dasar anak-anak…

Maka, di usia 25 tahun ini, saya berdoa agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Hahaha.. lucu juga. Berani-beraninya saya berdoa seperti ini lagi. Padahal saya tahu, setelah saya berdoa ini, Tuhan akan langsung memberikan “tes” kepada saya, agar saya bisa belajar dari “tes” itu. Yaaaa… tapi, memang begitulah hidup kan? Berbeda dengan sekolah. Kalau sekolah, belajar dulu baru ujian; kalau hidup, ujian dulu baru bisa belajar. Bukan begitu?

Seharusnya saya tidak perlu khawatir kalau saya diberikan “tes” itu sih. Saya tahu Tuhan ada dimana saja dalam kehidupan saya. Tuhan ada di masa lalu saya, Tuhan yang sama ada di masa kini saya, dan Tuhan yang sama pula pasti ada dalam masa depan saya. Kalau saya percaya dan memegang Tuhan terus dalam kehidupan saya, saya yakin Tuhan yang sejak dulu mendengar doa Marisa-kecil juga akan mendengar doa Marisa-yang-sudah-25-tahun. Tuhan yang sama akan menjaga pilihan Marisa, menghibur ketika Marisa merasa “patah hati” karena kesalahannya dalam memilih jalan hidup, melembutkan hati Marisa yang (mungkin sekali) ngeyel, dan akan menopang ketika Marisa harus terus melanjutkan kehidupannya.

Saya bertekad tahun ini akan menjadi tahun yang monumental dalam kehidupan saya. Saya tidak mau tahun ini berlalu begitu saja dan bertekad untuk mengisinya dengan hal-hal yang luar biasa. Ummm… sebenarnya saya sudah merencanakan beberapa hal sih. Tapi itu akan kita bahas di lain waktu. Hehehe… 

Yah, kembali lagi, hal-hal luar biasa pasti tidak akan terjadi dengan mudah. Semoga Tuhan menolong saya.

 

Have a good day!!!

 

The (almost) birthday girl,

Marisa

Monday, March 11, 2013

Bored Yet Tired…

Saya mulai merasa bosan dengan kehidupan saya selama ini. Rasanya, melakukan hal yang sama berulang-ulang setiap harinya, mulai terasa memuakkan buat saya. Setiap hari saya bangun pagi, berangkat ke kampus, pergi sebentar sampai sore atau langsung pulang, lalu melakukan sedikit hal di rumah, kemudian tidur. Besoknya? Ya sama..itu lagi yang saya kerjakan. Begitu terus… berulang-ulang…. Di akhir minggu? Ya mungkin akan berubah sedikit urutan kegiatannya karena dikurangi “berangkat ke kampus”. Tapi sama saja, hal-hal itu-itu saja yang saya lakukan di akhir minggu.

Apalagi, saya juga merasa bosan dengan diri saya sendiri. Hhmmm… Mungkin bukan “bosan” ya, lebih tepatnya saya merasa  “lelah”. Saya mulai merasa kelelahan dengan segala hal yang ada di sekitar saya, hal-hal yang selama ini membebani pikiran saya. Saya sadar sih, hal ini juga disebabkan oleh sifat saya yang memang terlalu banyak berpikir. Maka itu, saya mulai merasa kelelahan. Rasanya kalau bisa, saya mau banget me-restart kehidupan saya…sehingga semuanya mulai dari awal dengan baik. Tapi saya tahu itu tidak bisa. Saya mulai merasa lelah dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini, baik itu dalam rangka mengejar sesuatu atau untuk mempertahankan sesuatu. Lagipula, setalah saya pikir-pikir, masalah yang “membebani” saya setahun kemarin dan yang ada saat ini…..sama-sama saja. Mungkin hanya situasi saya saja yang sedikit berbeda. Tapi ya masalahnya masih itu-itu saja. Hahaha..pantas saja saya mulai merasa kelelahan.

Rasanya…..saya ingin berhenti saja dari semua ini… Saya ingin sekali mengambil sebuah liburan panjang, atau pindah ke suatu tempat yang jauh untuk beberapa lama. Mulai dengan situasi yang baru dan orang-orang yang baru. Tapi… saya rasa belum waktunya untuk sekarang. Lalu kapan? Saya juga tidak tahu. Saya juga tidak tahu apakah saya sanggup untuk meninggalkan kehidupan saya yang (sebenarnya) sudah tertata dengan sangat baik saat ini.

Aaaaahhh… rasanya saya mau untuk melakukan apa saja untuk menghilangkan kebosanan saya saat ini…

 

Sangat bosan,

Marisa

Tuesday, February 19, 2013

Blog

Saya punya kesenangan baru akhir-akhir ini, yaitu blogwalking, atau bahasa sederhananya adalah jalan-jalan ke blog milik orang lain. Sistem yang saya lakukan adalah membuka blog teman saya, kemudian mencari link ke blog teman-dari-teman saya dan kemudian mencari link ke temannya yang lain lagi. Menyenangkan sekali lho! Saya jadi bisa melihat berbagai macam blog yang ditulis oleh berbagai macam orang (yang adalah teman saya sendiri atau mungkin juga tidak saya kenal) dengan gaya penulisan yang bermacam-macam juga. Saya paling senang dengan blog yang isinya pengalaman hidup sehari-hari yang ditulis dengan gaya yang lucu atau blog yang isinya tentang perenungan hidup. Dari setiap kejadian di tiap cerita, ada pelajaran yang bisa diambil dan direnungkan. Jadi bisa banyak belajar toh?
 
Nah, dari beberapa blog yang sudah saya baca sejauh ini, saya punya beberapa blog favorit. Salah satunya adalah blog yang ditulis oleh kakak senior saya di FKG UI, Kak Ade Paramitha. Seperti yang saya bilang tadi, blog ini isinya tentang kehidupan sehari-hari sih, tapi penulisannya bagus, dan ada pesan yang bisa diambil dari tiap ceritanya.
 
Hmmm… ada satu cerita yang menarik banget. Ini adalah post terbaru dari Ka Ade:

Love story

Posted by adeparamitha in Uncategorized. Tagged: brokenheart, Love, move on.

Everyone has their very own love story. I have heard many of them, the bad and ugly one in particular. I never say it was better or worse than the other. Each one of it feels like a sting.

Maybe you were abused. Maybe you were stood in uncertainty for a quite some times. Maybe you were cheated on. Maybe you were just left without any explanation. Maybe you were being hurt over and over again.

And then, you feel like a crap. All you want to do is just crawling in your bed for a week. Or crying your heart out alone in your room. Or begging for the second chance. Or struggling to deny everything. Or trying to figure out what is really wrong. Or watching every romantic movies with a happy ending. Or listening to every whining love song. And then, you try to make up your life. You make some differences. You have your hair cut. You laugh with your best friends. You dress up. You hang out. You meet a bunch of new people. But still, you feel empty. You still want to crawl in your bed for a week. You still cry in your room alone in the middle of the night. You still want everything didn’t change.
What I can say, if you want to cry, cry… Take as much time as you need to mend the broken pieces, because at some point you will move on. You must move on. Because they’ll move on. It just a matter of time who is going to move on first. Then, your story will be just a history. You will meet a new one. Maybe you’ll be broken again. But maybe, just maybe… You don’t.


Cheers,
Ade


Bagus kan? hahahahaha…

Sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa saya menge-post yang satu ini di blog saya.

Karena…… saya tahu saya ada dalam cerita itu. One of those love stories is mine.

Makasih Ka Ade…

 

Dengan penuh semangat membaca,
Marisa

Monday, February 18, 2013

(Not) Accidentally in Love….

“Love is like handing someone a gun, having them point it at your heart, and trusting them to never pull the trigger.”  Michael Gardner

Beberapa hari yang lalu, seorang  teman saya yang sedang ada jauh dari Jakarta tetiba BBM di tengah malam untuk ngobrol-ngobrol. Setelah ngobrol singkat, akhirnya si teman ini cerita tentang “suatu hal” dalam  hubungannya sekarang dengan pacarnya. Yah, inti dari ceritanya adalah kebingungan dia tentang : “sebenernya gw suka gak sih sama cowok gw? kok rasanya gw ga ada jealous-nya sama sekali ya?” Waktu ditanya ini, saya merasa lucu, karena sebenarnya, saya pun sedang memikirkan hal yang serupa walaupun tidak sama persis dalam beberapa hari belakangan. Ya tentunya bukan dalam konteks saya dan pacar saya, karena toh saya belum punya pacar.. Selain itu, kalau dalam konteks saya pun tidak sama. Karena, saya bukannya “tidak jealous sama sekali”… semua orang juga tahu kalo saya “jealous-an” sekali… hahahaha…

Jadi…yang saya pikirkan adalah : “sebenarnya bagaimana sih yang namanya perasaan ‘cinta’ itu?” Pemikiran ini memang agak random ya, mungkin juga karena hawa-hawa bulan Februari yang identik dengan Valentine hahahaha.… Hmmm, jujur saja, saya agak khawatir kalau sebenarnya selama ini  saya belum pernah merasakan apa yang namanya “cinta” itu sendiri. Bahkan, setelah ada beberapa orang yang sangat saya sukai dalam hidup saya, rasanya…..saya tidak tahu apakah tepat kalau rasa suka itu saya sebut sebagai “cinta”. Tentu saja yang dibicarakan di sini adalah “cinta terhadap lawan jenis” ya. Karena kalau dengan sesama jenis, tentu saja beda dong “cinta-“nya…hahahaha..

Setelah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan teman dari jauh ini, dan teringat juga dengan obrolan saya dengan seorang teman yang adalah sarjana psikologi, saya pun akhirnya mengambil kesimpulan kalau saya, Marisa Thimang, adalah orang yang lebih banyak “berpikir” daripada “merasakan”. Saya lebih banyak menggunakan pikiran saya ketika bertindak atau menghadapi suatu keadaan. Saya berusaha merasionalisasi segala sesuatu, menganalisa segala sesuatu, berusaha mencari alasan rasional di balik segala sesuatu, dan jarang untuk menggunakan hanya perasaan saja. Meskipun ada juga saat-saat dimana saya merasa kehilangan kontrol pada diri saya yang kemudian membuat saya bertindak menurut emosi saya. Namun, setelah itu, saya sadar kalau (menurut logika saya) saya tidak boleh begitu. Akhirnya kemudian saya kembali ke kontrol saya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Apa ini salah? Saya tidak tahu juga.

Selama beberapa hari kemudian saya mulai mencari alasan kenapa saya seperti itu. Lalu saya pun berkesimpulan sementara kalau pada dasarnya, saya merasa “otak” saya lebih bisa dipercaya daripada “hati” saya. Menurut saya, perasaan adalah hal yang labil, yang mampu berubah-ubah, yang karena ke-labil-annya, sangat riskan untuk percaya hanya kepada perasaan. Tapi, kalau sampai tidak melibatkan perasaan lagi? Apa mungkin saya sudah kebabalasan? Mungkin. Bahkan (menurut teman sarjana psikologi saya itu) kadang saya punya kecenderungan untuk “terlalu memikirkan segala sesuatu” (yang mungkin akan membawa saya kepada keadaan psikiatri yang patologis hahahahaha… *amit-amit*)

Yang agak gawat menurut saya dan teman jauh saya ini adalah… karena kami juga menerapkan azas “berpikir” ini dalam hubungan percintaan. Kami berpikir kalau “Cinta itu memilih, bukan dipilih” Maksudnya apa? Ketika saya bilang bahwa saya mencintai, itu artinya saya memilih dengan sadar untuk mencintai orang itu, dan akan memilih berkomitmen untuk terus dengan dia. Memang, rasa tertarik juga harus ada, tapi menurut saya itu adalah sign awal-nya saja, bukan merupakan hal yang akan bertahan lama. Untuk saya, yang akan bertahan setelah rasa tertarik itu hilang adalah komitmen bahwa saya akan terus bersama dengan orang yang saya pilih dan memilih saya. Apa itu salah? Saya tidak tahu juga. Saya pikir saya bisa berkata seperti itu karena melihat contoh-contoh yang ada dalam hidup saya, yang tentu saja adalah pengalaman orang lain, termasuk orang tua saya.

Lucunya, beberapa hari kemudian, saya terlibat percakapan yang sangat panjang dengan beberapa teman, yang kalau dibuat skenario sinetron, saya yakin Cinta Fitri pun kalah panjangnya hahaha..*berlebihan* Yah, inti dari pembicaraan kami adalah: kita tidak bisa memilih kapan atau dengan siapa kita akan jatuh cinta. Dan ketika merasakan si “jatuh cinta” itu, kita bisa saja melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahasa bagusnya: “melakukan hal gila dan bodoh demi cinta”. Dalam rangka mencoba merasakan apa yang teman-teman saya sedang rasakan, saya pun berpikir : “Dalam hidup saya yang sangat flat ini, pernah gak ya saya merasa begitu?”

Kemudian ingatan saya kembali ke 11 tahun yang lalu, dimana (mungkin) saya pernah merasakan hal yang sama dengan yang sedang dirasakan teman-teman saya ini. Kurang gila apa saya? Ohh atau lebih tepatnya….kurang bodoh apa saya? hahaha… Ketika tahu bahwa yang dilakukan adalah hal yang salah kepada orang yang salah, tapi tetap saja dilakukan, apa itu bukan bodoh? Sempat terbersit dalam pikiran saya; kalau kejadian itu terjadinya di masa sekarang, apa respon saya masih akan sama seperti waktu itu? Hmmm… mungkin berbeda ya.. mungkin. Saya tidak tahu juga. Ah, ya sudahlah. Mari kita tidak usah berandai-andai lagi….Intinya adalah, saya mengerti lah bagaimana kira-kira perasaan teman-teman saya saat ini.

Nah, dihadapkan pada 2 keadaan yang berbeda dari teman-teman sepermainan saya ini, saya jadi banyak berpikir (lagi): jadi saya setuju dengan yang mana? Apakah cinta itu adalah “pilihan” atau cinta itu adalah sesutu yang “dipilihkan”? Jujur, saya bingung juga, karena sedikitnya referensi dalam hidup saya. Kalau memang “memilih” artinya yang selama ini saya dan teman jauh saya pikirkan sudah benar. Dan apa yang saya lakukan selama 1,5 tahun terakhir ini juga sudah benar. Tapi, kalau ternyata memang “dipilihkan”, wah berarti saya masih harus menunggu (lagi) sampai rasa “jatuh cinta” itu dianugerahkan kepada saya.

Kenapa saya bilang referensi saya sedikit? Bukan karena fakta bahwa saya belu pernah punya pacar. Tapi, selama 24 tahun hidup, saya baru mengenal 2 pribadi yang benar-benar saya yakin mencintai saya. Pertama, Tuhan, yang saya yakin sekali cinta sama saya. Tidak perlu dijelaskan lagi. Yang kedua adalah Ibu saya, yang kalau tidak cinta sama saya, saya pasti sudah dibuang Beliau ke panti asuhan karena bandelnya anak bungsu-nya ini. Lalu respon dari saya? Yah, saya masih berusaha sebaik mungkin untuk mengekspresikan cinta saya juga kepada 2 pribadi ini. Meskipun, sering sekali fail ya… terutama pada pribadi yang pertama. Saya pun masih berjuang untuk memberikan hadiah untuk ibu saya, sebagai tanda kalau saya cinta sekali pada Beliau. Apa itu? Kelulusan saya. Saya rasa, itu adalah hadiah yang paling ditunggu yang paling bisa saya berikan untuk ibu saya (saat ini).Semoga Tuhan yang sangat mencintai saya mengijinkan saya untuk memberikan hadiah kepada Ibu yang sudah sangat mencintai saya.

Lalu…kalau dikaitkan kembali dengan “cinta kepada lawan jenis”, apa sama rasanya dengan mencintai Tuhan atau mencintai Ibu saya? I can’t tell…

 

With Love,

Marisa

Thursday, January 3, 2013

Addiction

…It's shocking how many kinds of addiction exist. It would be too easy if it were just drugs and booze and cigarettes. I think the hardest part of kicking a habit is wanting to kick it. I mean, we get addicted for a reason, right? Often, too often, things that start out as just a normal part of your life at some point cross the line to obsessive, compulsive, out of control. It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away. –Meredith Grey, Love/Addiction-

Pernah kecanduan? hehehe..

Biasanya kalo denger kata “kecanduan”, otak kita akan langsung menghubungkan dengan minuman beralkohol, rokok, atau obat2 terlarang. Padahal, gak selalu itu aja lho. Kadang-kadang kita bisa kecanduan dengan suatu keadaan. Errr… mungkin agak berlebihan ya kalo dibilang “kecanduan”. Kalo mau diperhalus, yaaa bisa lah diganti dengan "kebiasaan yang berlebihan”. hahahaha… Gak signifikan amat ya bedanya.

Menurut Wikipedia;

Addiction is the continued use of a mood altering substance or behaviour despite adverse consequences, or a neurological impairment leading to such behaviors. Classic hallmarks of addiction include: impaired control over substances/behavior, preoccupation with substance/behavior, continued use despite consequences, and denial

Jadi, kalo menurut hemat gw, ada kata kunci dari si kecanduan ini, “continued use”. Mungkin, sebenernya “hal” itu adalah hal yang sangat simple., biasa ada dalam hidup seseorang. Tapi, karena ada suatu pencetus, yang mungkin bahkan tidak disadari kalo itu akan menjadi pencetus, tiba-tiba si “hal biasa” itu dilakukan terus-menerus. Ketika “hal” itu dilakukan terus-menerus, rutin, tidak pernah tidak dilakukan, “hal” itu akan menjadi kebiasaan. Ketika suatu “hal” itu  akhirnya jadi kebiasaan, lama-lama lo jadi kehilangan kontrol lagi terhadap “hal” tersebut. Lo jadi keasikan, bahkan ketika lo tau kalo “hal” itu nantinya akan berakibat buruk pada lo. Akhirnya, yang bisa dilakukan cuma denial. Berpura – pura kalo “hal” itu oke kalo dilakukan. Mencari sejuta alasan dan pembenaran, demi untuk mencuri waktu  menikmati kecanduan lo itu. Kenapa sih harus segitu berjuangnya demi “hal” itu? Karena ketika lo melakukan “hal” itu, lo merasa sudah melakukan “sesuatu”; lo akan merasa sangat senang dan hal-hal yang tadinya bisa membuat lo merasa senang, jadi terasa biasa aja.

…It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away…

Menurut Wikipedia lagi,

Physiological dependence occurs when the body has to adjust to the substance by incorporating the substance into its 'normal' functioning. This state creates the conditions of tolerance and withdrawal. Tolerance is the process by which the body continually adapts to the substance and requires increasingly larger amounts to achieve the original effects. Withdrawal refers to physical and psychological symptoms people experience when reducing or discontinuing a substance the body had become dependent on. Symptoms of withdrawal generally include but are not limited to anxiety, irritability, intense cravings for the substance, nausea, hallucinations, headaches, cold sweats, and tremors.

Seiring berjalannya waktu lo melakukan “hal” yang lo sukai itu, tubuh (dan pkiran lo) akan mulai meng-adjust dirinya. Otak lo akan mulai memrogram kalo “setiap waktu tertentu, gw harus melakukan “hal” itu”. Lalu, tubuh lo akan secara otomatis bergerak untuk melakukan “hal” tersebut. Aneh ya? Itulah fisiologi. Padahal tadinya kebiasaan itu tidak ada, tapi ajaibnya tubuh lo secara otomatis dan cepatnya akan bertoleransi lalu beradaptasi dengan hal baru tersebut. Ketika tubuh lo sudah berhasil beradaptasi sampai “dosis” tertentu, secara otomatis tubuh dan otak lo akan meminta “dosis” yang lebih, untuk menjaga efek dari kebiasaan itu. Hahaha… manusiawi sekali ya, gak pernah merasa puas. hahahaha….

Nah, yang jadi masalah adalah kalo pada suatu saat, lo tidak bisa lagi melakukan kebiasaan itu. Secara terpaksa, tiba-tiba, atau bisa juga lo akhirnya menyadari kalo kebiasaan ini sudah terlalu mengganggu hidup lo sehingga secara sukarela lo mencoba menghentikan kebiasaan itu. Tapi yang namanya sudah jadi kebiasaan, akan sangat sulit untuk berubah.  Lo akan merasa terganggu, gak tenang, gelisah, sakit, atau segala gejala lain yang mungkin aja terjadi ketika lo mencoba untuk menghilangkan kebiasaan itu. Lalu, ada fase dimana lo akan jadi lebih ingin untuk melakukan kebiasaan itu. Lo akan melakukan segala macam usaha untuk melakukan kebiasaan itu lagi, bahkan mungkin aja usaha yang sekarang akan lebih keras daripada yang sebelumnya. Kenapa? Karena lo mau merasakan “perasaan itu” lagi. Perasaan senang ketika lo melakukan kebiasaan itu. Perasaan guilty pleasure, bahkan ketika lo tau apa yang lo lakukan itu akan merusak. Hahaha..hipokrit banget ya? Katanya mau menghilangkan kebiasaan, tapi malah jadi lebih pengen, lebih penasaran, lebih kepikiran terhadap si kebiasaan itu. Yah, tapi itulah. Gak bisa begitu aja menyingkirkan hal yang sudah sekian lama jadi bagian hidup kita. Bahkan dengan tekad sekeras batu pun, akan ada fase dimana kita ingin merasakan kenyamanan ketika melakukan kebiasaan itu. 

The thing about addiction is, it never ends well. Because eventually, whatever it is that was getting us high, stops feeling good, and starts to hurt. Still, they say you don't kick the habit until you hit rock bottom. But how do you know when you are there? Because no matter how badly a thing is hurting us, sometimes, letting it go hurts even worse. – Meredith Grey, Love/Addiction-

Ya, ketika seseorang sadar dia telah kecanduan, biasanya sudah dalam tahap yang sudah lanjut; dalam tahap yang sudah sangat merusak hidup. Seseorang akan sadar sesuatu itu buruk, kalo hal itu sudah menyakiti dirinya. Kalau belum, ya pasti akan dilajutkan lah ya….hahahaha… Untuk kembali ke kehidupan awal sebelum kecanduan, itu akan susah banget; dan prosesnya akan amat sangat menyakitkan.

Pertama, lo harus siap untuk merasa kecewa karena ternyata lo sudah tidak bisa lagi melakukan kebiasaan lo. Lo harus rela untuk sakit hati karena tidak bisa mendapatkan “kesenangan” itu lagi. Lo bahkan harus rela kalo sesuatu itu pada akhirnya tidak akan menjadi bagian dari hidup lo lagi. Kedua, lo harus siap kalo tiba-tiba otak dan tubuh lo mulai “nagih” untuk melakukan kebiasaan itu lagi. Lo harus dengan sekuat tenaga menahan, mencari bantuan orang lain atau teman, atau mencari kesibukan agar pikiran lo teralihkan. Mungkin ini termasuk denial, tapi akhirnya lo gak akan peduli lagi. Lo akan melakukan apa saja asal lo bisa melalui kegilaan ini dengan cepat. Sangat cepat.

Hahahaha..lagi-lagi gw membuat tulisan yang random. Yah, namanya juga blog sendiri, boleh nulis apa aja dong? mwihihihihihi… Semoga setelah ini akhirnya gw “kecanduan” hal-hal yang berguna ya… *halah*

 

Randomly,

Marisa