Tidak terasa, ternyata sudah hampir setahun saya tidak menge-post tulisan di blog ini. Dalam setahun itu, banyak pula yang terjadi dalam hidup saya. Long story short, saya benar-benar merasakan bahwa usia 25 tahun saya benar-benar monumental. Karena pertolongan Tuhan, akhirnya saya lulus menjadi dokter gigi. Saya pun pertama kali melakukan perjalanan keluar negeri di usia saya yang ke-25. hehehe.. Selain itu, saya pun berkesempatan untuk mengikuti suatu kegiatan yang mungkin dulu tidak pernah terpikirkan akan sungguh-sungguh saya ikuti, MMC. dan di MMC inilah saya banyak belajar dan disadarkan. Ini adalah laporan pribadi yang saya buat untuk laporan kelompok MMC, saya harap ini dapat merangkum semua cerita dan pengalaman saya selama beberapa bulan yang luar biasa itu:
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Mazmur 139 : 7-10 (TB)
Penggalan ayat di atas adalah salah satu bagian Firman Tuhan yang dibawakan oleh Kak Iin saat ibadah pengutusan Medical Mission Course (MMC) IX di Kapel RSU Bethesda Serukam, Kalimantan Barat. Saya ingat saat itu Kak Iin membawakan tentang Yunus, Sang Nabi Allah, yang berusaha mengingkari panggilan atas dirinya dengan pergi ke Tarsis. Namun, Tuhan yang Maha Kuasa tidak pernah gagal dengan rencana-Nya. Di akhir kitab kita tahu bahwa rencana Allah lah yang terjadi: Yunus akhirnya pergi ke Niniwe dan membuat orang-orang Niniwe bertobat. Ketika mendengar bagian kitab Yunus ini saat ibadah, saya tersenyum karena mengingat bahwa saya 3 bulan yang lalu saya sangat mirip dengan Nabi Yunus, berusaha mengingkari panggilan Tuhan. Namun, sekali lagi Tuhan yang Maha Kuasa tidak pernah gagal dengan rencana-Nya pada saya. Ketika Kak Iin melanjutkan khotbah dengan menyampaikan bagian Mazmur 139 ini, saya semakin yakin kalau saya tidak akan pernah bisa “lari” dari panggilan Tuhan.
Saya Marisa Thimang, 26 tahun, dokter gigi yang lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada bulan Oktober 2013. Seperti kebanyakan orang, saat itu saya mengalami kebingungan tentang apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Saya harus menunggu hingga akhir Januari sampai saya bisa Ujian Kompetensi Dokter Gigi (UKDGI). Jika ditambah dengan waktu menunggu pengumuman UKDGI dan waktu untuk mengurus STR yang masing-masing memakan waktu sebulan, maka total saya memiliki waktu 5 bulan sampai saya bisa betul-betul praktek secara resmi. Apa yang akan saya lakukan selama 5 bulan itu?? Pada saat itu saya sudah bergabung dengan sebuah interest group yang bernama “Dokter Gigi Misi”. Di situ saya diperkenalkan tentang misi, dibukakan bahwa profesi medis adalah profesi yang strategis untuk melakukan misi, dan kemudian diajak untuk melakukan mission trip untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Dari seorang teman Dokter Gigi Misi inilah saya diberi tahu tentang kegiatan MMC yang akan dimulai pada bulan Februari 2014.
Sebenarnya saya sudah pernah mendengar tentang MMC sebelumnya dari Monica (MMC VII) dan sudah mendengar betapa MMC akan sangat memberkati. Namun, saat itu ada beberapa hal yang menjadikan saya ragu-ragu mendaftar ikut MMC. Mulai dari ketakutan bahwa motivasi saya hanya karena “tidak ada perkerjaan lain”, kekhawatiran soal biaya, ijin orang tua, dan juga beberapa pelayanan lain yang masih harus dikerjakan di Jakarta. Setelah saya berpikir-pikir dan berkonsultasi dengan orang tua, saya memutuskan untuk tidak medaftar MMC di tahun ini tetapi akan mencoba mendaftar di tahun depan. Keinginan untuk mengikuti MMC pun terlupakan sampai batas pengembalian formulir pendaftaran di awal bulan Januari 2014 terlewati. Pemikiran tentang mengikuti MMC timbul kembali di pertengahan bulan Januari, ketika saya mengetahui kalau ada beberapa orang yang tidak jadi mengikuti MMC kali ini dan saya ditawarkan kesempatan untuk mendaftar menggantikan teman-teman yang tidak bisa berangkat tersebut. Meskipun saya mulai merasa gelisah, tetapi saat itu saya masih mengeraskan hati. Sampai keesokan harinya, setelah saya mendengar sharing seorang teman tetang mengikuti panggilan Tuhan atas hidupnya di suatu acara, saya jadi makin gelisah tentang MMC. Saya mulai berpikir jangan-jangan saya sudah mengeraskan hati dan tidak mau mendengar panggilan Tuhan yang bahkan sudah 2 kali memanggil saya. Akhirnya malam itu saya berdoa dan menyerahkan kegelisahan saya pada Tuhan. Saya berpikir, kalau Tuhan memang berkehendak saya pergi, pasti Tuhan juga yang akan memberikan jalan, meskipun saat itu terlihat mustahil terutama dari segi ijin orang tua dan biaya. Besok paginya, saya kembali mengungkapkan niat saya untuk mengikuti MMC kepada orang tua saya. Singkat cerita, orang tua saya mengijinkan dan kekhawatiran biaya pun tercukupi. Saya melihat ini adalah konfirmasi dari Tuhan agar saya mengikuti MMC. Dalam waktu yang sangat singkat saya mengisi formulir pendaftaran MMC yang akhirnya diterima untuk dapat mengikuti MMC-IX.
Meskipun sudah pernah mendengar tentang MMC sebelumnya, saya masih berpikir kalau MMC hanya program untuk mempersiapkan seorang dokter yang akan pergi bertugas ke daerah dari segi medis dan spiritual. Tetapi sepertinya….saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa daripada itu. Sejak kami memulai program MMC-IX ini di OMF tanggal 9 Februari 2014 dan berlanjut ke RSUB Serukam, saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru terutama pengertian tentang misi. Awalnya pengertian saya tentang misi hanya mencakup “pergi ke daerah terpencil dan membuat orang-orang di sana menjadi Kristen”, tetapi kemudian pemikiran ini dirombak menjadi pengertian misi yang lebih utuh. Lewat pembicara-pembicara dan Kursus Kairos yang kami ikuti di Serukam, saya menjadi mengerti bahwa misi bukanlah hanya tugas seorang pendeta atau misionaris full time, tetapi menjadi tugas semua orang Kristen, termasuk saya si dokter gigi baru ini. Saya juga menjadi mengerti kalau bermisi tidak hanya dilakukan di daerah pedalaman, tetapi dimana saja, kapan saja, dan melalui banyak cara. Saya bersyukur kalau selama MMC ini kami mendapatkan kesempatan untuk melihat banyak contoh orang yang bermisi dalam hidupnya, baik itu mereka yang berprofesi medis ataupun profesi lainnya. Saya dapat melihat contoh kehidupan misi yang luar biasa dari orang-orang yang bekerja di RSUB Serukam, yang memilih meninggalkan “kehidupan kota” demi melayani masyarakat di daerah terpencil di Kalimantan. Melalui tamu-tamu yang datang sebagai pembicara dalam MMC kali ini pun saya bisa banyak belajar bagaimana Tuhan dapat menggunakan hidup setiap orang untuk menggenapi rencana-Nya bagi dunia ini. Kami berkesempatan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang : dokter, dokter gigi, suster, hamba Tuhan full time, teknisi, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Namun, saya dapat melihat satu kesamaan dari kehidupan orang-orang ini, yaitu mereka menyerahkan diri dan profesinya untuk dipakai Tuhan menyatakan kasih Allah bagi manusia di dunia ini.
Dari sisi medis, saya merasa sangat diperlengkapi. Dulu saya berpikir kalau seorang dokter gigi dikirim ke daerah terpencil, dengan terbatasnya alat dan bahan juga ketiadaan listrik, maka akan sangat sedikit hal yang bisa dikerjakan. Namun, melalui MMC kali ini, pandangan saya kembali dirombak. Saya bersyukur kalau dalam MMC-IX kali ini, jumlah dokter umum dan dokter gigi berimbang, sehingga panitia membuat program khusus dokter gigi dan kami berkesempatan mempelajari banyak hal khusus kedokteran gigi. Saya juga bersyukur Tuhan mendatangkan dokter-dokter gigi dari banyak tempat untuk mengajar kami : drg Susan, drg Hedwin, drg Jenny dari Solo, drg Bruce Walker dari Bandung, dan drg Jay dari Salatiga. Dari mereka kami banyak belajar tentang peran dokter gigi dalam ladang misi. Kami juga belajar berbagai skill kedokteran gigi yang akan berguna ketika kami praktik, khususnya ketika kami praktik di daerah pedalaman. Hal lain yang menarik bagi saya adalah kami memiliki banyak sekali kesempatan untuk melakukan penyuluhan, baik itu di TK Serukam, SD sekitar, ataupun di desa-desa ketika kami live in. Kami banyak belajar tentang materi dan teknik penyuluhan. Selain itu kami juga mendapatkan banyak masukan ide yang akan dapat kami lakukan untuk meningkatkan kesehatan gigi di daerah kami masing-masing nantinya. Namun, secara pribadi, melalui penyuluhan-penyuluhan ini saya menjadi sadar kalau begitu banyak orang (khususnya anak-anak sekolah) yang belum mengerti tentang menjaga kesehatan mulutnya, bahkan untuk menyikat gigi sekalipun. Mereka juga memiliki akses yang sangat terbatas untuk mendapatkan pelayanan dokter gigi di daerahnya. Hal ini menyadarkan saya kalau dokter-dokter gigi di manapun memiliki tugas yang sangat besar dalam bidang promotif dan preventif, yang membuat pendapat awal saya tentang minimnya peran dokter gigi di daerah menjadi sangat salah. Satu hal baru yang saya pelajari dalam MMC ini adalah mendoakan pasien. Jujur saja, saya tidak pernah berdoa bersama pasien sebelum atau setelah bekerja. Tetapi di MMC ini kami diberi kesempatan, diajarkan, dan dibiasakan untuk berdoa sebagai salah satu cara menyampaikan Injil kepada pasien.
Selain dari segi misi dan medis, saya menikmati begitu banyak hal selama 3 bulan menjalani MMC. Saya menikmati morning devotion kami setiap pagi, saya menikmati memulai hari dengan memuji Tuhan dan sharing Baca Gali Alkitab (BGA) kami pagi itu. Meskipun kami BGA dari bahan yang sama yaitu Kitab Yohanes, saya sangat terkagum-kagum karena banyak hal berbeda yang bisa didapat masing-masing orang dari satu perikop yang sama, dan hal ini memperkaya perenungan saya hari itu. Saya juga menikmati life sharing setiap tamu maupun orang-orang yang mengajar kami yang diadakan hampir setiap malam. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing; bagaimana mereka mengenal Tuhan, lahir baru, dan akhirnya mengerjakan panggilan Tuhan dalam hidupnya, termasuk bagaimana mereka membangun keluarga yang mengasihi Tuhan. Dari life sharing saya bisa melihat bahwa Tuhan memanggil setiap orang dengan cara yang berbeda-beda untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Saya juga belajar bahwa kita tidak perlu takut untuk melangkah, karena jika kita mengambil keputusan yang salah pun, Tuhan akan menolong kita untuk kembali masuk dalam rencana-Nya. Di akhir minggu saya selalu menikmati waktu pause and pondering yang dijadwalkan bagi kami. Meskipun awalnya sangat sulit bagi saya, tetapi akhirnya saya bisa menikmati waktu khusus tersebut untuk diam, memuji, dan berdoa kepada Tuhan. Saya juga menikmati waktu-waktu KTB bersama kelompok Desa Binaan Lao Serukam dan Kak Donda sebagai Pemimpin KTB. Sangat indah ketika kami bisa sharing pergumulan kami masing-masing dan saling mendoakan. Waktu-waktu mentoring dengan Ibu Melissa juga merupakan saat-saat yang saya nikmati. Terima kasih untuk Ibu Melissa yang sudah sangat menolong saya mengenali diri saya sendiri, menolong saya ketika saya menghadapi pergumulan, dan berkenan untuk sharing sehingga saya bisa banyak belajar dari kehidupan Ibu Melissa.
Selama MMC kami memiliki banyak kesempatan untuk melayani. Kami yang berjumlah 10 orang ini terbagi menjadi 2 kelompok desa binaan, yaitu Lao Serukam dan Rancang. Saya, dan 4 teman lainnya berkesempatan untuk melayani di Desa Lao Serukam. Pelayanan desa binaan ini merupakan hal yang baru bagi kami. Meskipun kami sudah pernah melayani di persekutuan ataupun gereja masing-masing, tetapi tidak satupun dari kami yang pernah menjadi guru sekolah minggu ataupun berkhotbah di depan jemaat, sehingga ketika kami diberi tugas untuk melayani di dua bagian tersebut, kami mejadi sangat khawatir. Namun, melalui kekhawatiran itu, kami belajar untuk mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Kami mempersiapkan materi sekolah minggu di sepanjang minggu tersebut, kami juga saling mendukung bagi teman yang akan bertugas membawa Firman di kebaktian umum minggu tersebut, dan yang terpenting kami saling mendoakan satu sama lain dan mendoakan jemaat Desa Binaan kami. Selain itu kami juga pergi live in di beberapa daerah di Kalimantan Barat : Sukadana, Nanga Baram, dan Tengon. Saya ingat setiap sebelum kami pergi live in, kami selalu mengadakan persekutuan doa, termasuk ketika kami akan pergi ke Tengon. Kami mendoakan persiapan kami masing-masing, perjalanan kami, pelayanan kami di desa tersebut, dan orang-orang yang akan kami layani. Bahkan kami diminta untuk menghubungi keluarga untuk mendoakan kami ketika pelayanan di Tengon. Hal ini membuat saya belajar bahwa doa adalah tiang dari pelayanan, doa-lah yang akan mendukung dan mempersatukan semua persiapan yang telah kita lakukan. Perjalanan untuk mencapai daerah-daerah live in tersebut sunguh sangat tidak mudah, melalui sungai dan darat. Medan yang sulit kami lalui ketika kami pergi ke Desa Tengon. Kami harus melewati jalan yang tidak rata, berlumpur, melewati beberapa sungai, sempat terjebak lumpur beberapa kali, bahkan jatuh dari sepeda motor. Meskipun begitu, saya sangat menikmati pelayanan di desa Tengon, secara khusus pelayanan anak yang kami lakukan di sana. Sangat senang rasanya melihat anak-anak yang begitu bersemangat bernanyi memuji Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan. Pelayanan di desa Tengon ini mengajarkan banyak hal kepada saya, khususnya kebergantungan kepada Tuhan. Perjalanan yang sulit, koordinasi yang sulit dengan tim yang berada di dusun yang lain, dan beberapa hal yang berjalan di luar rencana membuat kami belajar untuk menyerahkan diri, anggota tim, dan pelayanan kami kepada Tuhan. Perjalanan pulang kami pun tidak kalah sulitnya. Salah satu mobil kami rusak sehingga saya dan beberapa teman harus duduk di mobil bak terbuka bersama dengan barang-barang dan sayur-sayuran sepanjang perjalanan kembali ke Serukam. Tetapi ketidaknyamanan itu terbayar ketika kami menikmati pemandangan dan melihat bintang serta kunang-kunang selama perjalanan, hal-hal sederhana yang sulit didapatkan ketika kami berada di kota besar. Kami menikmati ciptaan Tuhan itu dan secara spontan mengatakan : How great Thou art!!
Hal yang tidak kalah saya syukuri dalam mengikuti MMC ini adalah karena Tuhan mengijinkan saya untuk bertemu dengan 9 orang peserta MMC yang lain : Bang Sapan, Bang Isak, Kak Rani, Kak Priska, Reny, Nikke, Tina, dan Achel. Awalnya, bertemu dengan 9 orang lain yang semuanya memiliki kecenderungan untuk dominan adalah hal yang sulit bagi saya. Tetapi akhirnya saya menyadari kalau ini juga merupakan proses yang Tuhan ijinkan untuk kami lewati bersama. Secara pribadi saya belajar untuk bekerja sama dalam kelompok besar, saya belajar untuk lebih menerima perbedaan bahkan kegagalan teman dalam tim, dan saya belajar untuk menghargai ketua tim saat itu walaupun sang ketua berusia lebih muda daripada saya. Saya juga menikmati waktu-waktu kami bersama-sama, ketika sharing, ngobrol ketika makan, bahkan ketika melakukan kegiatan bersama. Perbedaan cara pandang dan pemikiran masing-masing akhirnya membuat kami banyak belajar satu sama lain dan bukannya bertengkar, meskipun jujur saja hal ini sangat sulit di awal perjalanan. Kemudian kami bertemu dengan dr Jordan Lim, dokter umum dari Singapura yang sedang belajar misi di Serukam. Kehadiran Jordan makin menambah warna dalam kehidupan kelompok kami. Team building bersama Ka Irene juga sangat menolong kami untuk mengerti makna kesatuan tim dan bagaimana cara mencapainya.
Saya kagum dengan cara Tuhan bekerja dalam hidup saya. Saya bersyukur karena Tuhan telah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti MMC ini, saya bersyukur karena Tuhan kembali memanggil saya untuk kedua kalinya ketika saya mencoba lari dari panggilan Tuhan, dan saya bersyukur kalau pada akhirnya dimampukan untuk memutuskan mengikuti MMC ini. Masih banyak lagi hal yang saya nikmati dan pelajari selama MMC, yang bahkan tidak tertulis dalam laporan yang sudah sangat panjang ini. Namun yang pasti, saya tidak menyesal telah mengambil keputusan yang tidak populer untuk mengikuti MMC setelah lulus, bukannya langsung bekerja. Perjalanan selama MMC telah mengajarkan saya banyak hal tentang berjalan bersama Tuhan di dalam hidup. Saya ingat ketika memulai MMC, kami diberikan pesan untuk “be flexible”. Saya pikir itu hanya flexible dalam masalah jadwal, tetapi tidak mengira kalau saya juga harus flexible kepada tuntunan dan bentukan Tuhan dalam hidup. . Sama seperti lagu yang kami pelajari dalam MMC: I know God makes no mistakes, He leads in every path I take. Saya yakin kalau Tuhan tidak pernah salah dalam tuntunan-Nya. Saya berdoa agar Tuhan boleh memampukan kita untuk terus melakukan panggilan-Nya dalam hidup, kita boleh selalu peka akan tuntunan Tuhan, dan kita semua boleh didapati setia sampai akhir. Kiranya Tuhan menolong kita.
Soli Deo Gloria.
--------------============--------------
Laporan yang panjang ya? hahaha… Namun, bahkan laporan yang panjang ini pun tidak dapat mengungkapkan dengan persis setiap kejadiannya dan bagaimana perasaan ketika mengalami kejadian tersebut. Satu hal yang tidak saya tuliskan dalam laporan adalah, saya sangat bersyukur Tuhan telah menghadirkan orang-orang yang sangat menolong saya sampai pada akhirnya saya bisa mengikuti MMC ini. Kalau dipikir-pikir, kalau saya ikut MMC pun tidak ada keuntungannya untuk mereka, tapi saya merasa mereka begitu memperjuangkan saya untuk bisa ikut. Saya sangat mengucap syukur pada Tuhan atas mereka. Dan saya berdoa, biarlah setelah ini saya juga mampu melakukan hal yang sama, mengajak orang-orang untuk bisa mengikuti MMC. Bukan demi saya, bukan demi panitia MMC, tapi agar orang lain juga merasakan berkat-berkat yang sama seperti yang saya dapatkan selama saya mengikuti MMC. Soli Deo Gloria.
Marisa Thimang
No comments:
Post a Comment