For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen. -Romans 11:33-

Friday, July 12, 2013

Stay With Me…!!!

Ini adalah minggu kedua saya menjadi anggota di salah satu pusat kebugaran di Jakarta. Eh? Kenapa tetiba saya masuk menjadi anggota? Apa karena ikut-ikutan atau gegayaan semata? Hahaha.. Tentu tidaaakkkkkk…. Sebetulnya sekitar 3 tahun lalu, saya juga pernah menjadi anggota di klub lain. Namun, karena saat itu bersamaan dengan pengerjaan karya ilmiah (semacam skripsi) , ditambah dengan aktifitas mengajar yang cukup padat waktu itu, dan ada juga faktor jarak antara rumah-klub yang jika dihitung, effort saya untuk pulang mungkin hampir sama seperti lari-lari di treadmill selama 2 jam (agak berlebihan mungkin..hahaha); akhirnya kegiatan ngegym ini terbengkalai dan saya memutuskan untuk keluar dari klub tersebut.

Jadi apa alasannya? Hmm..pertama alasan kesehatan. Ini juga yang menjadi motivasi pertama saya ngegym 3 tahun yang lalu. Sedikit orang yang tahu kalau saya memiliki masalah kesehatan yang, kalau untuk saya sih, penting dan mendesak, tapi dokter saya hanya berkata dengan santai “Ah, ini sih karena kamu kurang olahraga aja..” Hahaha.. Maka dari itu saya cepat-cepat mendaftar menjadi anggota gym, dan setelah sebulan memang ‘selesai’ sakitnya. Namun, seiring dengan ‘selesai’-nya periode gym saya, maka ‘selesai’ jugalah sembuhhnya penyakit itu. Dan selama 3 tahun, karena saya juga jarang berolahraga, maka si penyakit kambuh terus. Hahahaha.. Sekarang, saya rasa saya memiliki waktu luang yang cukup untuk berolahraga lagi. Maka itu, saya rasa saat ini juga saat yang tepat untuk kembali ‘menghilangkan’ penyakit tersebut. Hahaha… Lagipula saya ingat masa-masa saat ngegym dulu. Rasanya tubuh saya jadi lebih enteng setelah satu bulan berolahraga. Nah, kenapa keadaan yang baik itu tidak saya adakan lagi sekarang?

Alasan kedua, karena saya butuh kegiatan pengalih perhatian. Saya sadar kalau saya dibiarkan dalam suatu keadaan yang kosong dan tanpa kegiatan, maka pikiran saya akan terbang kemana-mana, sehingga menghasilkan pikiran-pikiran aneh yang akhirnya berdampak buruk pada perasaan dan hidup saya. Setelah beberapa lama saya merasakan capek yang luar biasa menjadi seperti itu, maka saya memutuskan untuk menjadi “bahagia” saja. Dengan motto “I'm getting my life back”, saya mencoba mencari cara untuk mengisi “waktu luang” saya. Pada awalnya, saya mencoba jalan-jalan ke mall atau ke toko buku. Namun, akhirnya saya sadar kalau saya tidak bisa melakukan itu terus-menerus. Terlalu menghamburkan uang, kesenangan yang saya dapat juga hanya sebentar, dan yang paling penting, saya jadi mengonsumsi fast food setiap hari. Erggghhh… Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengisi “waktu luang” tersebut dengan berolah raga. Toh dengan berolah raga, akan dibentuk hormon yang kemudian akan memengaruhi perasaan sehingga mood menjadi baik. Sama seperti ketika seseorang makan cokelat. It’s easy to be happy, right?

Nah, kalau di klub, saya selalu suka mengikuti kelas-kelas training yang disediakan. Hmm… ya rasanya memang lebih menyenangkan sih daripada melakukan olahraga cardio dengan alat sendirian selama berjam-jam. Maka, selama 2 minggu ini, saya mencoba beberapa kelas. Tidak semua memang. Saya hanya mengikuti kelas-kelas yang saya suka, pernah saya lakukan sebelumnya, dan kalaupun mencoba kelas baru, saya memilih kelas yang saya pikir bisa saya lakukan. Bagaimana dengan kelas yoga? Hahaha.. mungkin nanti dulu ya. Saya belum kuat iman untuk ikut kelas yang satu itu. Kelas favorit saya adalah: BODY COMBAT!! Yuhuuuu…!! Ini adalah kelas cardio dengan melakukan gerakan-gerakan yang diadopsi dari bela diri, seperti karate, boxing, muay thai, dll. Apa yang menarik? Ini bisa menjadi pelampiasan emosi kadang-kadang. Hahaha.. Jadi, gerakan tonjok, jab, atau tendang-nya pake hati dan (sedikit) emosi, sehingga setelah selesai sesi Body Combat-nya, selesai juga kesalnya. Hahahaha… Oke banget kaaann??

Menariknya, waktu saya mengikuti kelas Body Combat hari Rabu kemarin, sang trainer meminta kami untuk mengangkat salah satu kaki ke arah samping, meluruskannya, dan menahannya sampai 10 hitungan. Untuk saya yang keseimbangannya agak-agak kurang baik, itu adalah masalah. Dan benar saja, saya kesulitan melakukan gerakan itu dan jatuh beberapa kali. Tapi kemudian si trainer bilang “Look at someone who doesn’t move! Stay with me!”. Saya kaget juga dengan pernyataan ini, karena hal yang sama dikatakan oleh trainer Body Balance di kelas yang saya ikuti hari Senin minggu sebelumnya. Saat itu kami diminta membuat sikap kapal terbang dimana saya (seperti biasa) kesulitan menjaga keseimbangan. Lalu si trainer bilang “Look at one point that doesn’t move!” Sayangnya, waktu saya mudah terdistraksi dengan teman-teman lain yang bergoyang-goyang karena kehilangan keseimbangan juga dan akhirnya gagal lah saya mempertahankan posisi kapal terbang itu. Namun, di kelas Body Combat kali ini saya berusaha keras berkonsentrasi dengan memilih melihat ke satu titik yang benar-benar tidak bergerak, yaitu tepi jendela. Dan benar saja, saya bisa mempertahankan posisi dengan satu kaki terangkat (cukup) lurus ke samping selama 10 hitungan, sebanyak 4 set. *bangga* hahahaha…

Setelah sesi berakhir saya pun berpikir kembali: “Betul juga ya. Melihat ke satu titik yang tidak bergerak akan membantu kita untuk berkonsentrasi. Kalau kita bisa fokus berkonsentrasi pada suatu titik yang tidak berubah, maka kita akan bisa mempertahankan keseimbangan kita dan meneruskan ‘posisi’ kita dengan benar sampai waktunya selesai. Namun, begitu fokus kita hilang dan mulai terdistraksi, maka mulailah juga kita kehilangan keseimbangan dan akhirnya gagal untuk mempertahankan ‘posisi’ tetap seperti seharusnya” Saya pikir, begitu juga dengan kehidupan. Semua bergantung pada fokus kita. Kalau fokus kita tetap dan tidak bergerak, maka harusnya bisa pula kita untuk melakukan “apa yang harusnya kita kerjakan”. Sayangnya, apa sih yang tidak berubah dalam kehidupan ini? Orang akan berubah, keadaan akan berubah, bahkan hati orang pun bisa berubah. Bukankah perubahan adalah hal yang pasti terjadi, selain kematian? Kemudian saya ingat seorang teman saya pernah berkata, “Jangan pernah berharap pada manusia, manusia pasti mengecewakan. Berharap saja pada Tuhan, tidak akan mengecewakan.” Iya. Satu-satunya yang tidak berubah hanya Tuhan. Seperti bisa kita dengar di lagu Sekolah Minggu : “Tuhan Yesus tidak berubah..tidak berubah..tidak berubah..” Seyakin itu anak-anak sekolah minggu bisa menyanyikan lagu tersebut, kenapa kita orang-orang yang sudah ‘dewasa’ malah lupa dan mencoba mencari fokus kehidupan yang lain? Apalagi kalau kita membicarakan kehidupan pelayanan. Sudah tentu fokusnya harus Tuhan, yang tidak akan berubah. Kalau fokus pelayanan kita bukan Tuhan, dan si ‘fokus’ mulai berubah dan menjadi ‘mengecewakan’, maka hancurlah juga pelayanan kita.

Hal lain yang mendapatkan perhatian saya 2 minggu ini adalah ketika di tengah-tengah sesi, baik itu Body Combat atau Body Balance atau kelas yang lain, seringkali para peserta mulai kelihatan kelelahan dan kesulitan untuk mengikuti gerakan yang sudah sampai ke ‘puncak’-nya. Atau untuk gerakan inti yang diulang hingga beberapa set, kadang para peserta sudah kelelahan untuk meneruskan. Namun, bukannya membiarkan peserta untuk beristirahat atau membiarkan peserta berhenti dan tidak melakukan gerakan, tetapi si trainer akan bilang “Stay with me! Stay with me!” dan dia akan meneruskan gerakan ke set selanjutnya hingga selesai. Saya pikir itu adalah cara si trainer untuk mengembalikan fokus peserta sehingga peserta yang tadinya sudah kelelahan, bisa kembali fokus dan memacu dirinya untuk menyelesaikan set tersebut bersama-sama dengan si trainer. Hal ini juga yang dikatakan oleh si trainer Body Combat saat melakukan gerakan keseimbangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dia mengatakan “Stay with me!” sambil kami bersama-sama menahan gerakan tersebut sampai 10 hitungan. Saya sendiri merasakan sih, kadang ingin menyerah dan berhenti juga jika gerakannya sudah mulai sulit dan tangan, kaki, atau punggung saya sudah merasa sakit. Namun, kalau saya bertahan dan kembali fokus kepada si trainer, saya akan memacu diri untuk meneruskan melakukan gerakan tersebut walaupun dengan, tentu saja, effort yang lebih besar. Dan akhirnya saya pun merasakan kepuasan ketika saya berhasil menyelesaikan set gerakan tersebut sampai selesai. Hahaha…

Kemudian saya membayangkan, “Jangan-jangan Tuhan juga bilang begitu ya. Ketika kita bilang kita punya masalah dalam kehidupan dan rasanya ingin berhenti saja, Tuhan bukannya bilang “Oke, silakan kamu berhenti dan tidak usah ngapa-ngapain lagi”, tapi Tuhan akan bilang seperti yang trainer itu bilang “Stay with Me. Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama””. Hahaha.. ini memang pemikiran yang agak random ya. Tapi bukankah di Matius 11: 28 Yesus berkata, “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”? Ketika kita mulai lelah, merasa capek dengan beban kehidupan yang ada, mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, lelah dengan keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan ketika kita sedang merasa sendirian; alih-alih meninggalkan Tuhan dan berhenti, harusnya kita tetap bersama Tuhan. Stay with Him. Saya pernah mendengar ucapan, yang kira-kira isinya “Berdoalah ketika kamu paling tidak ingin berdoa”. Iya. Tetap berdoa, saat teduh, dan ke gereja, bahkan yang rasanya hanya seperti rutinitas saja, akan menjaga kita tetap dekat dengan Firman Tuhan. Tetap dekat dengan Firman Tuhan akan kembali mengingatkan kita tentang janji Tuhan dan akan mengembalikan ‘fokus’ kita sehingga kembali menguatkan kita dalam menjalani kehidupan. Mungkin proses hingga ‘kembali fokus’ tidak akan semudah kelihatannya. Mungkin hal itu akan menjadi proses yang memakan waktu lama. Tapi biarlah kita boleh tetap ‘melekat’ pada Tuhan dan Roh Kudus akan bekerja dalam diri kita. And you know what? Yang membuat semuanya menjadi tambah indah adalah, kita tidak menjalani kehidupan kita sendirian, kita menjalaninya bersama Tuhan, Sang Empunya kehidupan itu sendiri. Sampai selesai. Rasanya sangat menyenangkan ketika tahu bahwa ada Pribadi yang selalu bersama-sama dengan kita saat kita menjalani kehidupan yang (saya rasa) semakin sulit dan akan terus semakin sulit ini. Begitu juga dalam kehidupan pelayanan, bukan? Stay with Him, dan kita akan bisa menyelesaikan tugas pelayanan kita, bersama-sama dengan Dia, Sang Empunya pelayanan itu. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia, bukan? Maka bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Lucu juga ya, pelajaran tentang kehidupan bisa didapat dari mana saja. Bahkan dari tempat berolah raga.

 

Ready to work out and ready to learn,

Marisa

No comments:

Post a Comment