For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen. -Romans 11:33-

Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

Addiction

…It's shocking how many kinds of addiction exist. It would be too easy if it were just drugs and booze and cigarettes. I think the hardest part of kicking a habit is wanting to kick it. I mean, we get addicted for a reason, right? Often, too often, things that start out as just a normal part of your life at some point cross the line to obsessive, compulsive, out of control. It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away. –Meredith Grey, Love/Addiction-

Pernah kecanduan? hehehe..

Biasanya kalo denger kata “kecanduan”, otak kita akan langsung menghubungkan dengan minuman beralkohol, rokok, atau obat2 terlarang. Padahal, gak selalu itu aja lho. Kadang-kadang kita bisa kecanduan dengan suatu keadaan. Errr… mungkin agak berlebihan ya kalo dibilang “kecanduan”. Kalo mau diperhalus, yaaa bisa lah diganti dengan "kebiasaan yang berlebihan”. hahahaha… Gak signifikan amat ya bedanya.

Menurut Wikipedia;

Addiction is the continued use of a mood altering substance or behaviour despite adverse consequences, or a neurological impairment leading to such behaviors. Classic hallmarks of addiction include: impaired control over substances/behavior, preoccupation with substance/behavior, continued use despite consequences, and denial

Jadi, kalo menurut hemat gw, ada kata kunci dari si kecanduan ini, “continued use”. Mungkin, sebenernya “hal” itu adalah hal yang sangat simple., biasa ada dalam hidup seseorang. Tapi, karena ada suatu pencetus, yang mungkin bahkan tidak disadari kalo itu akan menjadi pencetus, tiba-tiba si “hal biasa” itu dilakukan terus-menerus. Ketika “hal” itu dilakukan terus-menerus, rutin, tidak pernah tidak dilakukan, “hal” itu akan menjadi kebiasaan. Ketika suatu “hal” itu  akhirnya jadi kebiasaan, lama-lama lo jadi kehilangan kontrol lagi terhadap “hal” tersebut. Lo jadi keasikan, bahkan ketika lo tau kalo “hal” itu nantinya akan berakibat buruk pada lo. Akhirnya, yang bisa dilakukan cuma denial. Berpura – pura kalo “hal” itu oke kalo dilakukan. Mencari sejuta alasan dan pembenaran, demi untuk mencuri waktu  menikmati kecanduan lo itu. Kenapa sih harus segitu berjuangnya demi “hal” itu? Karena ketika lo melakukan “hal” itu, lo merasa sudah melakukan “sesuatu”; lo akan merasa sangat senang dan hal-hal yang tadinya bisa membuat lo merasa senang, jadi terasa biasa aja.

…It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away…

Menurut Wikipedia lagi,

Physiological dependence occurs when the body has to adjust to the substance by incorporating the substance into its 'normal' functioning. This state creates the conditions of tolerance and withdrawal. Tolerance is the process by which the body continually adapts to the substance and requires increasingly larger amounts to achieve the original effects. Withdrawal refers to physical and psychological symptoms people experience when reducing or discontinuing a substance the body had become dependent on. Symptoms of withdrawal generally include but are not limited to anxiety, irritability, intense cravings for the substance, nausea, hallucinations, headaches, cold sweats, and tremors.

Seiring berjalannya waktu lo melakukan “hal” yang lo sukai itu, tubuh (dan pkiran lo) akan mulai meng-adjust dirinya. Otak lo akan mulai memrogram kalo “setiap waktu tertentu, gw harus melakukan “hal” itu”. Lalu, tubuh lo akan secara otomatis bergerak untuk melakukan “hal” tersebut. Aneh ya? Itulah fisiologi. Padahal tadinya kebiasaan itu tidak ada, tapi ajaibnya tubuh lo secara otomatis dan cepatnya akan bertoleransi lalu beradaptasi dengan hal baru tersebut. Ketika tubuh lo sudah berhasil beradaptasi sampai “dosis” tertentu, secara otomatis tubuh dan otak lo akan meminta “dosis” yang lebih, untuk menjaga efek dari kebiasaan itu. Hahaha… manusiawi sekali ya, gak pernah merasa puas. hahahaha….

Nah, yang jadi masalah adalah kalo pada suatu saat, lo tidak bisa lagi melakukan kebiasaan itu. Secara terpaksa, tiba-tiba, atau bisa juga lo akhirnya menyadari kalo kebiasaan ini sudah terlalu mengganggu hidup lo sehingga secara sukarela lo mencoba menghentikan kebiasaan itu. Tapi yang namanya sudah jadi kebiasaan, akan sangat sulit untuk berubah.  Lo akan merasa terganggu, gak tenang, gelisah, sakit, atau segala gejala lain yang mungkin aja terjadi ketika lo mencoba untuk menghilangkan kebiasaan itu. Lalu, ada fase dimana lo akan jadi lebih ingin untuk melakukan kebiasaan itu. Lo akan melakukan segala macam usaha untuk melakukan kebiasaan itu lagi, bahkan mungkin aja usaha yang sekarang akan lebih keras daripada yang sebelumnya. Kenapa? Karena lo mau merasakan “perasaan itu” lagi. Perasaan senang ketika lo melakukan kebiasaan itu. Perasaan guilty pleasure, bahkan ketika lo tau apa yang lo lakukan itu akan merusak. Hahaha..hipokrit banget ya? Katanya mau menghilangkan kebiasaan, tapi malah jadi lebih pengen, lebih penasaran, lebih kepikiran terhadap si kebiasaan itu. Yah, tapi itulah. Gak bisa begitu aja menyingkirkan hal yang sudah sekian lama jadi bagian hidup kita. Bahkan dengan tekad sekeras batu pun, akan ada fase dimana kita ingin merasakan kenyamanan ketika melakukan kebiasaan itu. 

The thing about addiction is, it never ends well. Because eventually, whatever it is that was getting us high, stops feeling good, and starts to hurt. Still, they say you don't kick the habit until you hit rock bottom. But how do you know when you are there? Because no matter how badly a thing is hurting us, sometimes, letting it go hurts even worse. – Meredith Grey, Love/Addiction-

Ya, ketika seseorang sadar dia telah kecanduan, biasanya sudah dalam tahap yang sudah lanjut; dalam tahap yang sudah sangat merusak hidup. Seseorang akan sadar sesuatu itu buruk, kalo hal itu sudah menyakiti dirinya. Kalau belum, ya pasti akan dilajutkan lah ya….hahahaha… Untuk kembali ke kehidupan awal sebelum kecanduan, itu akan susah banget; dan prosesnya akan amat sangat menyakitkan.

Pertama, lo harus siap untuk merasa kecewa karena ternyata lo sudah tidak bisa lagi melakukan kebiasaan lo. Lo harus rela untuk sakit hati karena tidak bisa mendapatkan “kesenangan” itu lagi. Lo bahkan harus rela kalo sesuatu itu pada akhirnya tidak akan menjadi bagian dari hidup lo lagi. Kedua, lo harus siap kalo tiba-tiba otak dan tubuh lo mulai “nagih” untuk melakukan kebiasaan itu lagi. Lo harus dengan sekuat tenaga menahan, mencari bantuan orang lain atau teman, atau mencari kesibukan agar pikiran lo teralihkan. Mungkin ini termasuk denial, tapi akhirnya lo gak akan peduli lagi. Lo akan melakukan apa saja asal lo bisa melalui kegilaan ini dengan cepat. Sangat cepat.

Hahahaha..lagi-lagi gw membuat tulisan yang random. Yah, namanya juga blog sendiri, boleh nulis apa aja dong? mwihihihihihi… Semoga setelah ini akhirnya gw “kecanduan” hal-hal yang berguna ya… *halah*

 

Randomly,

Marisa

Friday, November 23, 2012

Unfinished Song….

Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu….

Hehehehe… akhir-akhir ini suka banget denger lagu Lebih Indah-nya Adera ini. Ummm… tapi, gw rasa, gw baru bisa nyanyi sampe bagian ini aja… blom bisa ngelanjutin ke bagian selanjutnya. “Belom”, bukan “gak akan”. 

Lagi sendu? Iya. Kapan sih gw gak sendu? hahahaha… Kayaknya sih “galau” udah jadi trademark gw. Yah, gw harap sih gegalauan gw gak sampe ngeganggu orang ya. hahahaha….

Tapi… someday, gw berharap banget bisa nyanyiin lagu ini sampe selesai.. entah untuk siapa pun itu… mwihihihihihi….

 

Sambil terus dengerin lagu,

Marisa

Sunday, June 24, 2012

You Can’t Lose What You Never Had…

Gw cuma sedang berpikir dengan randomnya..

Apa sih sebenernya yang dimaksud dengan kehilangan??

Kalo menurut KBBI, hilang itu sendiri berarti:v 1. tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan; 2 tidak ada lagi perasaan (spt marah, jengkel, suka, duka), kepercayaan, pertimbangan, dsb; 3 tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi; lenyap; 4 tidak ada, tidak kedengaran lagi (tt suara, bunyi, dsb; 5 meninggal. Sedangkan, kehilangan itu artinya: 1 n hal hilangnya sesuatu; kematian; 2 v menderita sesuatu krn hilang.

Jadi, kalo mau disebut kehilangan itu, apa harus bener-bener ga bisa diliat lagi? Dalam arti, panca indera lo udah ga bisa meng-indera si “sesuatu” itu lagi? Jadi kalau mau bilang “sesuatu” hilang, “sesuatu” itu harus sudah jadi milik kita ya? Kalo masih bisa di-indera, tapi sudah bukan milik lo lagi, atau  sudah tidak dalam keadaan yang sama dengan yang dulu lagi, bisa gak dibilang itu “hilang” juga?

Post gw sebelumnya, isinya cuma qoutes dari Grey’s Anatomy.

There is a reason I said I'd be happy alone. It wasn’t because I thought I would be happy alone. It was because I thought if I loved someone and then it fell apart, I might not make it. It's easier to be alone. Because what if you learn that you need love and then you don't have it? What if you like it and lean on it? What if you shape your life around it and then it falls apart? Can you even survive that kind of pain? Losing love is like organ damage. It's like dying. The only difference is, death ends. This? It could go on forever . . . (Meredith) – Grey’s Anatomy - Unaccompanied Minor.

Gw ngepost itu bukan dengan maksud gw mau selamanya sendirian lho.. hahaha.. Tapi, ada bagian yang membuat gw setuju… Menurut gw, relationships are so freaking complicated.. Any kind of it. Bukan cuma hubungan antara wanita dan pria, tapi termasuk juga hubungan antara anak-orang tua, sesama rekan kerja, temen, atau sebuah kelompok persahabatan.

Kenapa sih bisa ada ke-complicated-an itu? Yah, kalo menurut gw, karena lo mengharapkan “sesuatu” dari hubungan yang lo bangun dengan “rekan” lo itu, atau bahkan lo menggantungkan hidup lo pada hubungan itu. Ketika hubungan itu tidak berjalan seperti apa yang lo harapkan, atau respon si “rekan” tidak sesuai dengan yang lo harapkan, akan timbul rasa kecewa. Eh tapi “mengharapkan sesuatu” itu bukan berarti “pamrih” lho ya… At least, lo mengharapkan si “rekan” lo akan memberi respon yang baik juga terhadap itikad baik lo… Tapi, ketika lo merasa responnya tidak sesuai, kecewa gak sih? Misalnya, ketika lo bertanya pada seorang teman “apa kabar?”, tp si teman malah bilang “lo siapa? sok care banget” Kesel gak? Kesel dong… hahaha…  Semakin besar lo berharap pada hubungan itu, maka akan semakin besar juga nantinya rasa kecewa yang akan lo alami. Itu berbanding lurus.

Nah,yang membuat tambah complicated lagi adalah ketidakmampuan kita untuk menyampaikan rasa “kecewa” itu kepada si rekan. Kenapa? Karena gak enak mungkin, atau gak tau gimana harus nyampeinnya, atau udah disampein, tapi si rekan ini gak ngerti-ngerti juga. Kalo disampein sih sebenernya, bisa lah masalahnya diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat hehehe… Yah, memang sih, ada aja masalah yang gak segampang itu untuk diselesaikan. Tapi, dengan itikad dan usaha yang baik (dan keras) dari kedua pihak, gw rasa bisa lah ya…(seharusnya) hohoho…

Jadi, kalo sudah merasa kecewa, apalagi kalo kecewanya sudah berkali-kali, biasanya sih kalo gw, gw akan males untuk melakukan lagi hal yang gw tau akan membuat gw merasa kecewa (lagi). Kenapa? Ya karena gak enaknya rasa kecewa itu. Ada gak sih  orang yang mau megang panci yang lagi ditaro di atas kompor setelah tangannya pernah melepuh gara-gara itu? Yaaa..selain lagi latihan debus atau saraf sensorisnya udah putus semua, gw rasa semua orang normal akan gak suka dengan “ketidaknyamanan”. Orang tersebut secara refleks  akan langsung menarik tangannya dari si panci panas. Artinya? Orang suka dengan sesuatu yang nyaman dan akan menghindari sesuatu yang tidak nyaman itu.

So, jalan keluarnya? Bagaimana bisa terhindar dari kekecewaan? Kalo disimpulin, menurut gw ada 2 jalan keluarnya…

  1. Jangan terlalu berharap dari relationship yang lo bangun, atau
  2. Jangan punya relationship sekalian… 

It’s better and much easier to be alone, right? Hahahaha….

Apalagi kalo hal-hal begini terjadi dalam hal hubungan antara pria dan wanita yang kita sebut sebagai hubungan “asmara”. Efeknya?? Gak usah ditanya… 

…Because what if you learn that you need love and then you don't have it? What if you like it and lean on it? What if you shape your life around it and then it falls apart?…

Akan jadi lebih lucu lagi kalo ternyata yang berharap cuma elo doang… Berharap pada sesuatu yang tidak pasti, yang belum ada dalam genggaman; sudah menumpuk mimpi-mimpi dan angan-angan indah dengan orang yang bahkan gak tau kalo lo berharap sama dia. Ketika ternyata tidak ada respon yang baik dan harapannya hancur, kebayang gak sih kecewanya gimana? Mungkin lo sudah melakukan berbagai tindakan preventif ya untuk menghindari kekecewaan itu. Lo sudah membangun tembok bahkan membentengi diri lo dengan berbagai macam teori dan logika. Berharap dengan logika itu lo akan bisa memilih, apakah gw akan melanjutkan berharap atau tidak. Berharap dengan logika ini, lo bisa terhindar dari rasa kecewa karena terlalu banyak berharap atau rasa menyesal karena menyerah sebelum waktunya. Semua dipertimbangkan dengan logika. Tapi… kadang-kadang hati sama otak itu gak sinkron. Lo takut untuk “getting burned” tapi lo tetep mau mencoba. Elo takut, kalo lo gak nyoba, lo akan menyesal di kemudian hari. Ada aja suara di balik akal sehat lo yang selalu berbisik “Coba dulu  aja lah, siapa tau bisa…”, meskipun elo ketakutan setengah mati untuk merasa kecewa karena gagal pada akhirnya.  Masalahnya, ketika lo tidak bisa mempertahankan logika lo berjalan dengan semestinya dan memutuskan untuk melanjutkan harapan, itu adalah point of no return. Lo akan mulai untuk melakukan segala macam cara untuk mewujudkan harapan lo. Apapun itu. Semua yang bisa dilakukan untuk mendapatkan harapan lo akan dilakukan, dan sepertinya semuanya punya kesempatan yang sama untuk berhasil. Tapi nanti, di suatu saat, ada aja suatu titik dimana lo akan berhenti berjuang dan menyerah. Atau….lo terpaksa untuk berhenti dan menyerah. Entah karena lo sudah merasa capek; entah lo tetiba sadar bahwa lo akan kecewa; atau ketika lo harus mundur untuk sebuah alasan yang jauh lebih “mulia” daripada sebuah cinta-cinta- an, apakah itu atas nama persahabatan atau “gak mau merusak hubungan yang baik seperti sekarang” atau demi kepentingan orang banyak yang kepentingannya jauh di atas kepentingan lo. Sayangnya, ketika saat itu lo mau kembali ke titik awal (dimana tadinya lo masih bisa memilih), lo sudah “tercebur” terlalu jauh dan terlalu dalam untuk bisa balik lagi. 

Nah, kalo ada pertanyaan “Bisa balik lagi gak sih?” Ya harusnya sih jawabanya “Bisa”” ya. Tapi… itu artinya, lo harus melakukan segenap usaha untuk mengembalikan (lagi) logika lo, membangun kembali tembok-tembok yang sudah runtuh karena keputusan lo, menata kembali akal sehat lo, bahkan sampai mendoktrin diri lo sendiri kalo lo harus kembali “normal” tanpa adanya harapan-harapan bodoh itu. Dan biasanya, membangun itu lebih susah daripada meruntuhkan. Liat aja metabolisme. Anabolisme itu membutuhkan energi yang lebih besar daripada katabolisme. Membangun kembali logika sambil berusaha untuk gak melanjutkan harapan itu 2x lipat susahnya daripada mundur dari awal.

Ketika yang berharap cuma lo doang, dan tidak ada respon yang sesuai, maka kemudian lo akan merasa kecewa. Ketika lo tidak berhasil mendapatkan apa yang lo harapkan, lo akan kecewa dan akhirnya lo akan merasa kehilangan. Apa yang hilang? Ya si “keinginan” lo itu. Sesuatu yang lo inginkan, sudah lo usahakan, tapi pada akhirnya tidak didapatkan; rasanya pasti kehilangan.

….Can you even survive that kind of pain?… 

Tapi, kalo dipikir lagi, sebenernya boleh gak sih kalo merasa kehilangan? To be honest, lo kan gak kehilangan apa-apa? Dari awalnya, orang itu memang bukan punya lo. Jadi kalo pada akhirnya lo tidak mendapatkan orang yang menjadi harapan lo, ya keadaannya akan tetap sama kan? Lo tidak kehilangan apa-apa karena memang lo tidak pernah punya apa-apa.

Gampang ya diomonginnya..hahaha.. Tapi sekali lagi, hati dan otak itu seringkali gak sinkron. Biasanya kita akan terus bertahan dengan kengototan kita bahkan ngeyel kalo kita sudah kehilangan sesuatu, padahal kita tau kalo itu gak bener. Akhirnya? Kita yang menderita karena merasa kehilangan. Kita aja. Dia? Hahaha… Mana dia tau.. Dia aja gak tau kalo kita berharap sama dia. hahahaha….

…Losing love is like organ damage. It's like dying. The only difference is, death ends. This? It could go on forever . . .

Jadi, harus gimana dong?

Umm…yaahh… Kalo menurut hemat gw sih, harus mulai belajar ikhlas ya. Hahahaha… Ikhlas untuk nerima kalo harapan lo itu gak tercapai atau… belum tercapai. Bukan karena lo kurang berusaha, tapi pada akhirnya kita harus sadar dan berusaha menerima serta percaya kalo Tuhan akan memberi yang lebih baik, dan pastinya adalah yang terbaik. Yang lo inginkan sekarang, yang lo pikir dengan logika lo adalah yang paling baik untuk lo, belum tentu adalah yang terbaik kan? Siapa sih yang tau apa yang jadi rencana Tuhan untuk masing-masing orang?

Gw tau lah gimana susahnya belajar untuk “ikhlas” itu. Rasanya seperti mengiris-iris hati sendiri. Ketika lo gak suka dengan suatu keadaan, tapi lo sadar lo gak bisa marah dan harus ikhlas, lo cuma bisa diem dan berharap kekesalan dan emosi lo akan hilang dengan seiring waktu. Beda tipis sih ya antara “nerima keadaan” dengan “denial”. Apapun itu, pada akhirnya lo akhirnya gak akan peduli lagi. Lo cuma berharap lo bisa melalui keadaan itu dengan kepala tetap dingin dan attitude tetap baik.  Ketika emosi yang sudah lo pendam itu bertumpuk dan memuncak, lo juga gak bisa marah ke siapa-siapa. Kenapa? Karena lo sebenarnya sudah tau risikonya, tapi lo sendiri yang menceburkan diri lo ke dalam “masalah” itu. Ketika akhirnya si “risiko” itu dateng, yaaa…. terima aja lah ya. Hahahaha…

Hmm… mungkin dengan percaya aja bahwa setiap kejadian, setiap hubungan tidak akan ada yang sia-sia, akan membantu banget ya. Ketika lo gagal dengan yang ini, pengalaman ini akan mempersiapkan lo untuk yang berikutnya. Harapannya, lo sudah akan bener-bener siap ketika yang tepat itu datang….. Kalo katanya seorang temen gw: “Kalo emang Tuhan ijinkan, pasti akan dibukakan jalannya kok.” Nah, jadi? Sekarang kita tinggal ikhlas aja kan? Dan menyerahkan masalah yang sebetulnya-tidak-terlalu-ekstravaganza-tapi-suka-dilebih—lebihkan ini kepada Tuhan. Kalau kita sudah bisa ikhlas, gw yakin kalo itu yang namanya move on. Ikhlas kalo yang sudah lewat itu memang bukan untuk kita, dan kita belajar dari yang kemarin untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan yang lebih baik. Kalo ada seseorang bilang dia sudah move on tapi tetep blom bisa ikhlas, gw rasa itu namanya denial

Etapi, kalo ternyata kita udah nyerah trus orang itu baru sadar kalo dia ngelewatin hal yang baik gimana? Yaaaa…itu sih deritanya dia… hahahaha…

Nb: Ini bukan tulisan ilmiah lho ya… Just my random thought…hahahaha…

Tuesday, June 19, 2012

Unaccompanied Minor…

There is a reason I said I'd be happy alone. It wasn’t because I thought I would be happy alone. It was because I thought if I loved someone and then it fell apart, I might not make it. It's easier to be alone. Because what if you learn that you need love and then you don't have it? What if you like it and lean on it? What if you shape your life around it and then it falls apart? Can you even survive that kind of pain? Losing love is like organ damage. It's like dying. The only difference is, death ends. This? It could go on forever . . . (Meredith) – Grey’s Anatomy - Unaccompanied Minor.
 
Any comment?

Monday, April 23, 2012

Disease - Matchbox 20

Gw punya kebiasaan baru sekarang..ngulang-ngulang lagu yang sama. Entah itu di Windows Media Player, di HP, atau iPod. Hmm..biasanya sih lagunya spesifik ya.. hahaha.. dan bisa gw ulang2 sampe jutaan kali.

Umm buat hari ini, lagu yang diulang-ulang adalah "Disease"nya Matchbox 20..


"Disease"

Feels like you made a mistake
You made somebody's heart break
But now I have to let you go
I have to let you go

You left a stain
On every one of my good days
But I am stronger than you know
I have to let you go

No one's ever turned you over
No one's tried
To ever let you down,
Beautiful girl
Bless your heart

I got a disease
Deep inside me
Makes me feel uneasy baby
I can't live without you
Tell me what I am supposed to do about it
Keep your distance from it
Don't pay no attention to me
I got a disease

Feels like you're making a mess
You're hell on wheels in a black dress
You drove me to the fire
And left me there to burn

Every little thing you do is tragic
All my life, oh was magic
Beautiful girl
I can't breathe

I got a disease
Deep inside me
Makes me feel uneasy baby
I can't live without you
Tell me what I am supposed to do about it
Keep your distance from it
Don't pay no attention to me
I got a disease
I think that I'm sick
But leave me be while my world is coming down on me
You taste like honey, honey
Tell me can I be your honey
Be, be strong
Keep telling myself it that won't take long till
I'm free of my disease

Yeah well free of my disease
Free of my disease

I got a disease
Deep inside me
Makes me feel uneasy baby
I can't live without you
Tell me what I am supposed to do about it
Keep your distance from it
Don't pay no attention to me
I got a disease

I think that I'm sick
But leave me be while my world is coming down on me
You taste like honey, honey
Tell me can I be your honey
Be, be strong
Keep telling myself it that won't take long till
I'm free of my disease
Yeah well free of my disease
Free of my disease


Kayaknya lagu ini lumayan "menggambarkan" gw saat ini ya...hahahaha...

Monday, January 9, 2012

#ihatequotes

Tau dong #ihatequotes?? Yah, buat yang belom tau, itu adalah sebuah account di twitter yang isinya adalah quote2.. Gw gak tau gimana mekanismenya, tapi dalam sehari gw bisa baca ratusan quote dari account ini.  Kadang2 gw sampe mikir lho, mungkin ga sih kalo ada yang nulis quote2 itu secara manual? apa ada orang yang khusus digaji buat ngetwit?? *enak amat ya kerjaannya* hahaha..

Di tengah kegalauan gw selama beberapa minggu (atau bulan) kemarin, tetiba gw membaca sebuah twit dari #ihatequotes ini di timeline gw. Seperti kebiasaan gw yang sudah2, twit itu akan gw munchscreen (kayak di print screen gitu -red), dan gw simpen untuk diliat2 di kemudian hari. Nah, seperti kebiasaan gw yang sudah2 juga, gw bahkan lupa kalo pernah nge-munch quote ini, sampe2 gw baru baca kira2 sebulan kemudian..

Quotenya begini :
Falling in love with a friend is such a romantic way of having the best partner in life. But sometimes, friends are only meant to be friends

Buat gw? ini kena banget lho.. Dan ini cukup membantu gw untuk cool dan bahkan apatis..*minjem bahasanya Alys* hahaha...

Tapi bahkan quote yang berhasil bikin gw apatis ini gak cukup untuk menyelesaikan "sumber ke-bete-an" gw yang satu lagi (FYI, ini adalah sumber kebetean utama kedua gw setelah mikirin klinik).. Dan gw pernah juga baca quote ini, kali ini dari #girlsproverbs
GIRLS: "Sorry" is not just a word. It supposed to be a real action accompanied by a determination to not repeat the same mistake twice.

Pas gw baca quote ini, yang ada di pikiran gw adalah "Tuh kan..gak salah dong gw?" hahaha...
Cari pembenaran banget memang, tapi tetep aja...

Oiya, ada nih satu qoute yang gw suka:

We aren't responsible for what people think about us, but we're responsible for what we give them to think about us. -H.B. Eyring #ihatequotes


Sebenernya sih ya menurut gw, ga ada quote yang bener2 bagus. Yang ada cuma quote yang sesuai dengan suasana atau perasaan kita waktu itu. Yaaa..kalo lagi galau, ya quote galau atau quote yang ngasih semangat lah yang kita bilang bagus. Kalo lagi seneng, ya quote2 bergembira lah yang pas buat kita. hehehe..

Secara gw follow #ihatequotes dan account2 semacam itu, gw jadi kebanjiran quote tiap hari..hahaha.. Yah, nanti kapan2 kalo ada quote yang mengena di hati, akan gw share lagi ya...hohoho...