…It's shocking how many kinds of addiction exist. It would be too easy if it were just drugs and booze and cigarettes. I think the hardest part of kicking a habit is wanting to kick it. I mean, we get addicted for a reason, right? Often, too often, things that start out as just a normal part of your life at some point cross the line to obsessive, compulsive, out of control. It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away. –Meredith Grey, Love/Addiction-
Pernah kecanduan? hehehe..
Biasanya kalo denger kata “kecanduan”, otak kita akan langsung menghubungkan dengan minuman beralkohol, rokok, atau obat2 terlarang. Padahal, gak selalu itu aja lho. Kadang-kadang kita bisa kecanduan dengan suatu keadaan. Errr… mungkin agak berlebihan ya kalo dibilang “kecanduan”. Kalo mau diperhalus, yaaa bisa lah diganti dengan "kebiasaan yang berlebihan”. hahahaha… Gak signifikan amat ya bedanya.
Menurut Wikipedia;
Addiction is the continued use of a mood altering substance or behaviour despite adverse consequences, or a neurological impairment leading to such behaviors. Classic hallmarks of addiction include: impaired control over substances/behavior, preoccupation with substance/behavior, continued use despite consequences, and denial
Jadi, kalo menurut hemat gw, ada kata kunci dari si kecanduan ini, “continued use”. Mungkin, sebenernya “hal” itu adalah hal yang sangat simple., biasa ada dalam hidup seseorang. Tapi, karena ada suatu pencetus, yang mungkin bahkan tidak disadari kalo itu akan menjadi pencetus, tiba-tiba si “hal biasa” itu dilakukan terus-menerus. Ketika “hal” itu dilakukan terus-menerus, rutin, tidak pernah tidak dilakukan, “hal” itu akan menjadi kebiasaan. Ketika suatu “hal” itu akhirnya jadi kebiasaan, lama-lama lo jadi kehilangan kontrol lagi terhadap “hal” tersebut. Lo jadi keasikan, bahkan ketika lo tau kalo “hal” itu nantinya akan berakibat buruk pada lo. Akhirnya, yang bisa dilakukan cuma denial. Berpura – pura kalo “hal” itu oke kalo dilakukan. Mencari sejuta alasan dan pembenaran, demi untuk mencuri waktu menikmati kecanduan lo itu. Kenapa sih harus segitu berjuangnya demi “hal” itu? Karena ketika lo melakukan “hal” itu, lo merasa sudah melakukan “sesuatu”; lo akan merasa sangat senang dan hal-hal yang tadinya bisa membuat lo merasa senang, jadi terasa biasa aja.
…It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away…
Menurut Wikipedia lagi,
Physiological dependence occurs when the body has to adjust to the substance by incorporating the substance into its 'normal' functioning. This state creates the conditions of tolerance and withdrawal. Tolerance is the process by which the body continually adapts to the substance and requires increasingly larger amounts to achieve the original effects. Withdrawal refers to physical and psychological symptoms people experience when reducing or discontinuing a substance the body had become dependent on. Symptoms of withdrawal generally include but are not limited to anxiety, irritability, intense cravings for the substance, nausea, hallucinations, headaches, cold sweats, and tremors.
Seiring berjalannya waktu lo melakukan “hal” yang lo sukai itu, tubuh (dan pkiran lo) akan mulai meng-adjust dirinya. Otak lo akan mulai memrogram kalo “setiap waktu tertentu, gw harus melakukan “hal” itu”. Lalu, tubuh lo akan secara otomatis bergerak untuk melakukan “hal” tersebut. Aneh ya? Itulah fisiologi. Padahal tadinya kebiasaan itu tidak ada, tapi ajaibnya tubuh lo secara otomatis dan cepatnya akan bertoleransi lalu beradaptasi dengan hal baru tersebut. Ketika tubuh lo sudah berhasil beradaptasi sampai “dosis” tertentu, secara otomatis tubuh dan otak lo akan meminta “dosis” yang lebih, untuk menjaga efek dari kebiasaan itu. Hahaha… manusiawi sekali ya, gak pernah merasa puas. hahahaha….
Nah, yang jadi masalah adalah kalo pada suatu saat, lo tidak bisa lagi melakukan kebiasaan itu. Secara terpaksa, tiba-tiba, atau bisa juga lo akhirnya menyadari kalo kebiasaan ini sudah terlalu mengganggu hidup lo sehingga secara sukarela lo mencoba menghentikan kebiasaan itu. Tapi yang namanya sudah jadi kebiasaan, akan sangat sulit untuk berubah. Lo akan merasa terganggu, gak tenang, gelisah, sakit, atau segala gejala lain yang mungkin aja terjadi ketika lo mencoba untuk menghilangkan kebiasaan itu. Lalu, ada fase dimana lo akan jadi lebih ingin untuk melakukan kebiasaan itu. Lo akan melakukan segala macam usaha untuk melakukan kebiasaan itu lagi, bahkan mungkin aja usaha yang sekarang akan lebih keras daripada yang sebelumnya. Kenapa? Karena lo mau merasakan “perasaan itu” lagi. Perasaan senang ketika lo melakukan kebiasaan itu. Perasaan guilty pleasure, bahkan ketika lo tau apa yang lo lakukan itu akan merusak. Hahaha..hipokrit banget ya? Katanya mau menghilangkan kebiasaan, tapi malah jadi lebih pengen, lebih penasaran, lebih kepikiran terhadap si kebiasaan itu. Yah, tapi itulah. Gak bisa begitu aja menyingkirkan hal yang sudah sekian lama jadi bagian hidup kita. Bahkan dengan tekad sekeras batu pun, akan ada fase dimana kita ingin merasakan kenyamanan ketika melakukan kebiasaan itu.
The thing about addiction is, it never ends well. Because eventually, whatever it is that was getting us high, stops feeling good, and starts to hurt. Still, they say you don't kick the habit until you hit rock bottom. But how do you know when you are there? Because no matter how badly a thing is hurting us, sometimes, letting it go hurts even worse. – Meredith Grey, Love/Addiction-
Ya, ketika seseorang sadar dia telah kecanduan, biasanya sudah dalam tahap yang sudah lanjut; dalam tahap yang sudah sangat merusak hidup. Seseorang akan sadar sesuatu itu buruk, kalo hal itu sudah menyakiti dirinya. Kalau belum, ya pasti akan dilajutkan lah ya….hahahaha… Untuk kembali ke kehidupan awal sebelum kecanduan, itu akan susah banget; dan prosesnya akan amat sangat menyakitkan.
Pertama, lo harus siap untuk merasa kecewa karena ternyata lo sudah tidak bisa lagi melakukan kebiasaan lo. Lo harus rela untuk sakit hati karena tidak bisa mendapatkan “kesenangan” itu lagi. Lo bahkan harus rela kalo sesuatu itu pada akhirnya tidak akan menjadi bagian dari hidup lo lagi. Kedua, lo harus siap kalo tiba-tiba otak dan tubuh lo mulai “nagih” untuk melakukan kebiasaan itu lagi. Lo harus dengan sekuat tenaga menahan, mencari bantuan orang lain atau teman, atau mencari kesibukan agar pikiran lo teralihkan. Mungkin ini termasuk denial, tapi akhirnya lo gak akan peduli lagi. Lo akan melakukan apa saja asal lo bisa melalui kegilaan ini dengan cepat. Sangat cepat.
Hahahaha..lagi-lagi gw membuat tulisan yang random. Yah, namanya juga blog sendiri, boleh nulis apa aja dong? mwihihihihihi… Semoga setelah ini akhirnya gw “kecanduan” hal-hal yang berguna ya… *halah*
Randomly,
Marisa
No comments:
Post a Comment