For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen. -Romans 11:33-

Friday, July 12, 2013

Stay With Me…!!!

Ini adalah minggu kedua saya menjadi anggota di salah satu pusat kebugaran di Jakarta. Eh? Kenapa tetiba saya masuk menjadi anggota? Apa karena ikut-ikutan atau gegayaan semata? Hahaha.. Tentu tidaaakkkkkk…. Sebetulnya sekitar 3 tahun lalu, saya juga pernah menjadi anggota di klub lain. Namun, karena saat itu bersamaan dengan pengerjaan karya ilmiah (semacam skripsi) , ditambah dengan aktifitas mengajar yang cukup padat waktu itu, dan ada juga faktor jarak antara rumah-klub yang jika dihitung, effort saya untuk pulang mungkin hampir sama seperti lari-lari di treadmill selama 2 jam (agak berlebihan mungkin..hahaha); akhirnya kegiatan ngegym ini terbengkalai dan saya memutuskan untuk keluar dari klub tersebut.

Jadi apa alasannya? Hmm..pertama alasan kesehatan. Ini juga yang menjadi motivasi pertama saya ngegym 3 tahun yang lalu. Sedikit orang yang tahu kalau saya memiliki masalah kesehatan yang, kalau untuk saya sih, penting dan mendesak, tapi dokter saya hanya berkata dengan santai “Ah, ini sih karena kamu kurang olahraga aja..” Hahaha.. Maka dari itu saya cepat-cepat mendaftar menjadi anggota gym, dan setelah sebulan memang ‘selesai’ sakitnya. Namun, seiring dengan ‘selesai’-nya periode gym saya, maka ‘selesai’ jugalah sembuhhnya penyakit itu. Dan selama 3 tahun, karena saya juga jarang berolahraga, maka si penyakit kambuh terus. Hahahaha.. Sekarang, saya rasa saya memiliki waktu luang yang cukup untuk berolahraga lagi. Maka itu, saya rasa saat ini juga saat yang tepat untuk kembali ‘menghilangkan’ penyakit tersebut. Hahaha… Lagipula saya ingat masa-masa saat ngegym dulu. Rasanya tubuh saya jadi lebih enteng setelah satu bulan berolahraga. Nah, kenapa keadaan yang baik itu tidak saya adakan lagi sekarang?

Alasan kedua, karena saya butuh kegiatan pengalih perhatian. Saya sadar kalau saya dibiarkan dalam suatu keadaan yang kosong dan tanpa kegiatan, maka pikiran saya akan terbang kemana-mana, sehingga menghasilkan pikiran-pikiran aneh yang akhirnya berdampak buruk pada perasaan dan hidup saya. Setelah beberapa lama saya merasakan capek yang luar biasa menjadi seperti itu, maka saya memutuskan untuk menjadi “bahagia” saja. Dengan motto “I'm getting my life back”, saya mencoba mencari cara untuk mengisi “waktu luang” saya. Pada awalnya, saya mencoba jalan-jalan ke mall atau ke toko buku. Namun, akhirnya saya sadar kalau saya tidak bisa melakukan itu terus-menerus. Terlalu menghamburkan uang, kesenangan yang saya dapat juga hanya sebentar, dan yang paling penting, saya jadi mengonsumsi fast food setiap hari. Erggghhh… Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengisi “waktu luang” tersebut dengan berolah raga. Toh dengan berolah raga, akan dibentuk hormon yang kemudian akan memengaruhi perasaan sehingga mood menjadi baik. Sama seperti ketika seseorang makan cokelat. It’s easy to be happy, right?

Nah, kalau di klub, saya selalu suka mengikuti kelas-kelas training yang disediakan. Hmm… ya rasanya memang lebih menyenangkan sih daripada melakukan olahraga cardio dengan alat sendirian selama berjam-jam. Maka, selama 2 minggu ini, saya mencoba beberapa kelas. Tidak semua memang. Saya hanya mengikuti kelas-kelas yang saya suka, pernah saya lakukan sebelumnya, dan kalaupun mencoba kelas baru, saya memilih kelas yang saya pikir bisa saya lakukan. Bagaimana dengan kelas yoga? Hahaha.. mungkin nanti dulu ya. Saya belum kuat iman untuk ikut kelas yang satu itu. Kelas favorit saya adalah: BODY COMBAT!! Yuhuuuu…!! Ini adalah kelas cardio dengan melakukan gerakan-gerakan yang diadopsi dari bela diri, seperti karate, boxing, muay thai, dll. Apa yang menarik? Ini bisa menjadi pelampiasan emosi kadang-kadang. Hahaha.. Jadi, gerakan tonjok, jab, atau tendang-nya pake hati dan (sedikit) emosi, sehingga setelah selesai sesi Body Combat-nya, selesai juga kesalnya. Hahahaha… Oke banget kaaann??

Menariknya, waktu saya mengikuti kelas Body Combat hari Rabu kemarin, sang trainer meminta kami untuk mengangkat salah satu kaki ke arah samping, meluruskannya, dan menahannya sampai 10 hitungan. Untuk saya yang keseimbangannya agak-agak kurang baik, itu adalah masalah. Dan benar saja, saya kesulitan melakukan gerakan itu dan jatuh beberapa kali. Tapi kemudian si trainer bilang “Look at someone who doesn’t move! Stay with me!”. Saya kaget juga dengan pernyataan ini, karena hal yang sama dikatakan oleh trainer Body Balance di kelas yang saya ikuti hari Senin minggu sebelumnya. Saat itu kami diminta membuat sikap kapal terbang dimana saya (seperti biasa) kesulitan menjaga keseimbangan. Lalu si trainer bilang “Look at one point that doesn’t move!” Sayangnya, waktu saya mudah terdistraksi dengan teman-teman lain yang bergoyang-goyang karena kehilangan keseimbangan juga dan akhirnya gagal lah saya mempertahankan posisi kapal terbang itu. Namun, di kelas Body Combat kali ini saya berusaha keras berkonsentrasi dengan memilih melihat ke satu titik yang benar-benar tidak bergerak, yaitu tepi jendela. Dan benar saja, saya bisa mempertahankan posisi dengan satu kaki terangkat (cukup) lurus ke samping selama 10 hitungan, sebanyak 4 set. *bangga* hahahaha…

Setelah sesi berakhir saya pun berpikir kembali: “Betul juga ya. Melihat ke satu titik yang tidak bergerak akan membantu kita untuk berkonsentrasi. Kalau kita bisa fokus berkonsentrasi pada suatu titik yang tidak berubah, maka kita akan bisa mempertahankan keseimbangan kita dan meneruskan ‘posisi’ kita dengan benar sampai waktunya selesai. Namun, begitu fokus kita hilang dan mulai terdistraksi, maka mulailah juga kita kehilangan keseimbangan dan akhirnya gagal untuk mempertahankan ‘posisi’ tetap seperti seharusnya” Saya pikir, begitu juga dengan kehidupan. Semua bergantung pada fokus kita. Kalau fokus kita tetap dan tidak bergerak, maka harusnya bisa pula kita untuk melakukan “apa yang harusnya kita kerjakan”. Sayangnya, apa sih yang tidak berubah dalam kehidupan ini? Orang akan berubah, keadaan akan berubah, bahkan hati orang pun bisa berubah. Bukankah perubahan adalah hal yang pasti terjadi, selain kematian? Kemudian saya ingat seorang teman saya pernah berkata, “Jangan pernah berharap pada manusia, manusia pasti mengecewakan. Berharap saja pada Tuhan, tidak akan mengecewakan.” Iya. Satu-satunya yang tidak berubah hanya Tuhan. Seperti bisa kita dengar di lagu Sekolah Minggu : “Tuhan Yesus tidak berubah..tidak berubah..tidak berubah..” Seyakin itu anak-anak sekolah minggu bisa menyanyikan lagu tersebut, kenapa kita orang-orang yang sudah ‘dewasa’ malah lupa dan mencoba mencari fokus kehidupan yang lain? Apalagi kalau kita membicarakan kehidupan pelayanan. Sudah tentu fokusnya harus Tuhan, yang tidak akan berubah. Kalau fokus pelayanan kita bukan Tuhan, dan si ‘fokus’ mulai berubah dan menjadi ‘mengecewakan’, maka hancurlah juga pelayanan kita.

Hal lain yang mendapatkan perhatian saya 2 minggu ini adalah ketika di tengah-tengah sesi, baik itu Body Combat atau Body Balance atau kelas yang lain, seringkali para peserta mulai kelihatan kelelahan dan kesulitan untuk mengikuti gerakan yang sudah sampai ke ‘puncak’-nya. Atau untuk gerakan inti yang diulang hingga beberapa set, kadang para peserta sudah kelelahan untuk meneruskan. Namun, bukannya membiarkan peserta untuk beristirahat atau membiarkan peserta berhenti dan tidak melakukan gerakan, tetapi si trainer akan bilang “Stay with me! Stay with me!” dan dia akan meneruskan gerakan ke set selanjutnya hingga selesai. Saya pikir itu adalah cara si trainer untuk mengembalikan fokus peserta sehingga peserta yang tadinya sudah kelelahan, bisa kembali fokus dan memacu dirinya untuk menyelesaikan set tersebut bersama-sama dengan si trainer. Hal ini juga yang dikatakan oleh si trainer Body Combat saat melakukan gerakan keseimbangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dia mengatakan “Stay with me!” sambil kami bersama-sama menahan gerakan tersebut sampai 10 hitungan. Saya sendiri merasakan sih, kadang ingin menyerah dan berhenti juga jika gerakannya sudah mulai sulit dan tangan, kaki, atau punggung saya sudah merasa sakit. Namun, kalau saya bertahan dan kembali fokus kepada si trainer, saya akan memacu diri untuk meneruskan melakukan gerakan tersebut walaupun dengan, tentu saja, effort yang lebih besar. Dan akhirnya saya pun merasakan kepuasan ketika saya berhasil menyelesaikan set gerakan tersebut sampai selesai. Hahaha…

Kemudian saya membayangkan, “Jangan-jangan Tuhan juga bilang begitu ya. Ketika kita bilang kita punya masalah dalam kehidupan dan rasanya ingin berhenti saja, Tuhan bukannya bilang “Oke, silakan kamu berhenti dan tidak usah ngapa-ngapain lagi”, tapi Tuhan akan bilang seperti yang trainer itu bilang “Stay with Me. Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama””. Hahaha.. ini memang pemikiran yang agak random ya. Tapi bukankah di Matius 11: 28 Yesus berkata, “Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”? Ketika kita mulai lelah, merasa capek dengan beban kehidupan yang ada, mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, lelah dengan keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan ketika kita sedang merasa sendirian; alih-alih meninggalkan Tuhan dan berhenti, harusnya kita tetap bersama Tuhan. Stay with Him. Saya pernah mendengar ucapan, yang kira-kira isinya “Berdoalah ketika kamu paling tidak ingin berdoa”. Iya. Tetap berdoa, saat teduh, dan ke gereja, bahkan yang rasanya hanya seperti rutinitas saja, akan menjaga kita tetap dekat dengan Firman Tuhan. Tetap dekat dengan Firman Tuhan akan kembali mengingatkan kita tentang janji Tuhan dan akan mengembalikan ‘fokus’ kita sehingga kembali menguatkan kita dalam menjalani kehidupan. Mungkin proses hingga ‘kembali fokus’ tidak akan semudah kelihatannya. Mungkin hal itu akan menjadi proses yang memakan waktu lama. Tapi biarlah kita boleh tetap ‘melekat’ pada Tuhan dan Roh Kudus akan bekerja dalam diri kita. And you know what? Yang membuat semuanya menjadi tambah indah adalah, kita tidak menjalani kehidupan kita sendirian, kita menjalaninya bersama Tuhan, Sang Empunya kehidupan itu sendiri. Sampai selesai. Rasanya sangat menyenangkan ketika tahu bahwa ada Pribadi yang selalu bersama-sama dengan kita saat kita menjalani kehidupan yang (saya rasa) semakin sulit dan akan terus semakin sulit ini. Begitu juga dalam kehidupan pelayanan, bukan? Stay with Him, dan kita akan bisa menyelesaikan tugas pelayanan kita, bersama-sama dengan Dia, Sang Empunya pelayanan itu. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia, bukan? Maka bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Lucu juga ya, pelajaran tentang kehidupan bisa didapat dari mana saja. Bahkan dari tempat berolah raga.

 

Ready to work out and ready to learn,

Marisa

Thursday, March 14, 2013

The Last Post in My 24 Years Old

Jam di sudut kiri komputer saya menunjukkan angka 22:47.. Itu artinya, dalam kurang lebih 1 jam 10 menit lagi, saya akan bertambah tua 1 tahun lagi. Hahaha.. Kenapa sih jadi sebegitu pentingnya? Karena tahun ini, saya akan berusia 25 tahun, usia dimana seharusnya menjadi sangat monumental buat saya (dan orang-orang lain juga mungkin).

Usia memang tidak berhubungan sama sekali dengan tingkat kedewasaan seseorang. Usia juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan pencapaian hidup dari seseorang. Hal-hal yang saya sebutkan di atas itu merupakan hasil dari pergumulan, kerja keras, dan kesediaan orang tersebut untuk dibentuk oleh setiap kejadian yang ada dalam hidupnya. Saya sadar, dalam beberapa tahun belakangan kemarin saya banyak melakukan kesalahan, dimana kesalahan terbesar yang saya lakukan setahun kemarin adalah: saya ngeyel sama Tuhan. Saya tidak cukup rendah hati untuk mendengar jawaban dan tuntunan Tuhan dan sangat yakin kalau saya yang paling tahu apa yang paling baik untuk hidup saya. Dan saya sudah melalui hal yang (menurut saya) sangat menyakitkan untuk belajar tentang hal itu.

Kadang-karang saya berpikir: “Kayaknya gw harus lebih hati-hati ya kalau mau minta sesuatu sama Tuhan. Takutnya, gw akan sangat kaget dan gak kuat dengan cara Tuhan untuk mengajarkan gw tentang hal itu.” Kenapa bisa berpikir seperti itu? Karena sejak dulu, bahkan mungkin sejak saya kecil, saya selalu berdoa untuk mendapatkan “yang terbaik” dari Tuhan. Dalam segala hal dalam hidup saya. Pendidikan, kehidupan berkeluarga, teman-teman, pasangan hidup, kehidupan ekonomi, pekerjaan….semuanya. Saya selalu yakin kalau Tuhan selalu akan memberikan yang terbaik untuk saya. Tapi, ada sesuatu yang saya lupa, atau bahkan mungkin tidak disadari Marisa-kecil ketika mengucapkan doa ini. Saya lupa kalau saya, sebagai manusia, diberikan kehendak bebas oleh Tuhan untuk memilih. Sayangnya, karena keberdosaan saya, tidak semua hasil dari pilihan saya itu adalah yang terbaik. Bahkan mungkin sebagian besar bukanlah yang baik, tetapi saya hanya menganggap itu “baik untuk saya”. Sehingga, dengan baik hatinya, Tuhan yang Maha Kasih itu membuang hal-hal yang “bukan terbaik” itu dari kehidupan saya. Caranya? Hahahaha… untuk saya sakit sekali memang. Apalagi, dengan keterbatasan akal saya, saya merasa “ini yang terbaik buat saya, tapi kenapa dijauhkan dari saya?”. Dan seringnya, sudah tahu akalnya terbatas tapi tetap ngeyel, saya tetap berpegang pada keinginan saya dan tidak membiarkan Tuhan bekerja untuk saya. Aaaahhh….dasar manusia. Dasar anak-anak…

Maka, di usia 25 tahun ini, saya berdoa agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Hahaha.. lucu juga. Berani-beraninya saya berdoa seperti ini lagi. Padahal saya tahu, setelah saya berdoa ini, Tuhan akan langsung memberikan “tes” kepada saya, agar saya bisa belajar dari “tes” itu. Yaaaa… tapi, memang begitulah hidup kan? Berbeda dengan sekolah. Kalau sekolah, belajar dulu baru ujian; kalau hidup, ujian dulu baru bisa belajar. Bukan begitu?

Seharusnya saya tidak perlu khawatir kalau saya diberikan “tes” itu sih. Saya tahu Tuhan ada dimana saja dalam kehidupan saya. Tuhan ada di masa lalu saya, Tuhan yang sama ada di masa kini saya, dan Tuhan yang sama pula pasti ada dalam masa depan saya. Kalau saya percaya dan memegang Tuhan terus dalam kehidupan saya, saya yakin Tuhan yang sejak dulu mendengar doa Marisa-kecil juga akan mendengar doa Marisa-yang-sudah-25-tahun. Tuhan yang sama akan menjaga pilihan Marisa, menghibur ketika Marisa merasa “patah hati” karena kesalahannya dalam memilih jalan hidup, melembutkan hati Marisa yang (mungkin sekali) ngeyel, dan akan menopang ketika Marisa harus terus melanjutkan kehidupannya.

Saya bertekad tahun ini akan menjadi tahun yang monumental dalam kehidupan saya. Saya tidak mau tahun ini berlalu begitu saja dan bertekad untuk mengisinya dengan hal-hal yang luar biasa. Ummm… sebenarnya saya sudah merencanakan beberapa hal sih. Tapi itu akan kita bahas di lain waktu. Hehehe… 

Yah, kembali lagi, hal-hal luar biasa pasti tidak akan terjadi dengan mudah. Semoga Tuhan menolong saya.

 

Have a good day!!!

 

The (almost) birthday girl,

Marisa

Monday, March 11, 2013

Bored Yet Tired…

Saya mulai merasa bosan dengan kehidupan saya selama ini. Rasanya, melakukan hal yang sama berulang-ulang setiap harinya, mulai terasa memuakkan buat saya. Setiap hari saya bangun pagi, berangkat ke kampus, pergi sebentar sampai sore atau langsung pulang, lalu melakukan sedikit hal di rumah, kemudian tidur. Besoknya? Ya sama..itu lagi yang saya kerjakan. Begitu terus… berulang-ulang…. Di akhir minggu? Ya mungkin akan berubah sedikit urutan kegiatannya karena dikurangi “berangkat ke kampus”. Tapi sama saja, hal-hal itu-itu saja yang saya lakukan di akhir minggu.

Apalagi, saya juga merasa bosan dengan diri saya sendiri. Hhmmm… Mungkin bukan “bosan” ya, lebih tepatnya saya merasa  “lelah”. Saya mulai merasa kelelahan dengan segala hal yang ada di sekitar saya, hal-hal yang selama ini membebani pikiran saya. Saya sadar sih, hal ini juga disebabkan oleh sifat saya yang memang terlalu banyak berpikir. Maka itu, saya mulai merasa kelelahan. Rasanya kalau bisa, saya mau banget me-restart kehidupan saya…sehingga semuanya mulai dari awal dengan baik. Tapi saya tahu itu tidak bisa. Saya mulai merasa lelah dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini, baik itu dalam rangka mengejar sesuatu atau untuk mempertahankan sesuatu. Lagipula, setalah saya pikir-pikir, masalah yang “membebani” saya setahun kemarin dan yang ada saat ini…..sama-sama saja. Mungkin hanya situasi saya saja yang sedikit berbeda. Tapi ya masalahnya masih itu-itu saja. Hahaha..pantas saja saya mulai merasa kelelahan.

Rasanya…..saya ingin berhenti saja dari semua ini… Saya ingin sekali mengambil sebuah liburan panjang, atau pindah ke suatu tempat yang jauh untuk beberapa lama. Mulai dengan situasi yang baru dan orang-orang yang baru. Tapi… saya rasa belum waktunya untuk sekarang. Lalu kapan? Saya juga tidak tahu. Saya juga tidak tahu apakah saya sanggup untuk meninggalkan kehidupan saya yang (sebenarnya) sudah tertata dengan sangat baik saat ini.

Aaaaahhh… rasanya saya mau untuk melakukan apa saja untuk menghilangkan kebosanan saya saat ini…

 

Sangat bosan,

Marisa

Tuesday, February 19, 2013

Blog

Saya punya kesenangan baru akhir-akhir ini, yaitu blogwalking, atau bahasa sederhananya adalah jalan-jalan ke blog milik orang lain. Sistem yang saya lakukan adalah membuka blog teman saya, kemudian mencari link ke blog teman-dari-teman saya dan kemudian mencari link ke temannya yang lain lagi. Menyenangkan sekali lho! Saya jadi bisa melihat berbagai macam blog yang ditulis oleh berbagai macam orang (yang adalah teman saya sendiri atau mungkin juga tidak saya kenal) dengan gaya penulisan yang bermacam-macam juga. Saya paling senang dengan blog yang isinya pengalaman hidup sehari-hari yang ditulis dengan gaya yang lucu atau blog yang isinya tentang perenungan hidup. Dari setiap kejadian di tiap cerita, ada pelajaran yang bisa diambil dan direnungkan. Jadi bisa banyak belajar toh?
 
Nah, dari beberapa blog yang sudah saya baca sejauh ini, saya punya beberapa blog favorit. Salah satunya adalah blog yang ditulis oleh kakak senior saya di FKG UI, Kak Ade Paramitha. Seperti yang saya bilang tadi, blog ini isinya tentang kehidupan sehari-hari sih, tapi penulisannya bagus, dan ada pesan yang bisa diambil dari tiap ceritanya.
 
Hmmm… ada satu cerita yang menarik banget. Ini adalah post terbaru dari Ka Ade:

Love story

Posted by adeparamitha in Uncategorized. Tagged: brokenheart, Love, move on.

Everyone has their very own love story. I have heard many of them, the bad and ugly one in particular. I never say it was better or worse than the other. Each one of it feels like a sting.

Maybe you were abused. Maybe you were stood in uncertainty for a quite some times. Maybe you were cheated on. Maybe you were just left without any explanation. Maybe you were being hurt over and over again.

And then, you feel like a crap. All you want to do is just crawling in your bed for a week. Or crying your heart out alone in your room. Or begging for the second chance. Or struggling to deny everything. Or trying to figure out what is really wrong. Or watching every romantic movies with a happy ending. Or listening to every whining love song. And then, you try to make up your life. You make some differences. You have your hair cut. You laugh with your best friends. You dress up. You hang out. You meet a bunch of new people. But still, you feel empty. You still want to crawl in your bed for a week. You still cry in your room alone in the middle of the night. You still want everything didn’t change.
What I can say, if you want to cry, cry… Take as much time as you need to mend the broken pieces, because at some point you will move on. You must move on. Because they’ll move on. It just a matter of time who is going to move on first. Then, your story will be just a history. You will meet a new one. Maybe you’ll be broken again. But maybe, just maybe… You don’t.


Cheers,
Ade


Bagus kan? hahahahaha…

Sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa saya menge-post yang satu ini di blog saya.

Karena…… saya tahu saya ada dalam cerita itu. One of those love stories is mine.

Makasih Ka Ade…

 

Dengan penuh semangat membaca,
Marisa

Monday, February 18, 2013

(Not) Accidentally in Love….

“Love is like handing someone a gun, having them point it at your heart, and trusting them to never pull the trigger.”  Michael Gardner

Beberapa hari yang lalu, seorang  teman saya yang sedang ada jauh dari Jakarta tetiba BBM di tengah malam untuk ngobrol-ngobrol. Setelah ngobrol singkat, akhirnya si teman ini cerita tentang “suatu hal” dalam  hubungannya sekarang dengan pacarnya. Yah, inti dari ceritanya adalah kebingungan dia tentang : “sebenernya gw suka gak sih sama cowok gw? kok rasanya gw ga ada jealous-nya sama sekali ya?” Waktu ditanya ini, saya merasa lucu, karena sebenarnya, saya pun sedang memikirkan hal yang serupa walaupun tidak sama persis dalam beberapa hari belakangan. Ya tentunya bukan dalam konteks saya dan pacar saya, karena toh saya belum punya pacar.. Selain itu, kalau dalam konteks saya pun tidak sama. Karena, saya bukannya “tidak jealous sama sekali”… semua orang juga tahu kalo saya “jealous-an” sekali… hahahaha…

Jadi…yang saya pikirkan adalah : “sebenarnya bagaimana sih yang namanya perasaan ‘cinta’ itu?” Pemikiran ini memang agak random ya, mungkin juga karena hawa-hawa bulan Februari yang identik dengan Valentine hahahaha.… Hmmm, jujur saja, saya agak khawatir kalau sebenarnya selama ini  saya belum pernah merasakan apa yang namanya “cinta” itu sendiri. Bahkan, setelah ada beberapa orang yang sangat saya sukai dalam hidup saya, rasanya…..saya tidak tahu apakah tepat kalau rasa suka itu saya sebut sebagai “cinta”. Tentu saja yang dibicarakan di sini adalah “cinta terhadap lawan jenis” ya. Karena kalau dengan sesama jenis, tentu saja beda dong “cinta-“nya…hahahaha..

Setelah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan teman dari jauh ini, dan teringat juga dengan obrolan saya dengan seorang teman yang adalah sarjana psikologi, saya pun akhirnya mengambil kesimpulan kalau saya, Marisa Thimang, adalah orang yang lebih banyak “berpikir” daripada “merasakan”. Saya lebih banyak menggunakan pikiran saya ketika bertindak atau menghadapi suatu keadaan. Saya berusaha merasionalisasi segala sesuatu, menganalisa segala sesuatu, berusaha mencari alasan rasional di balik segala sesuatu, dan jarang untuk menggunakan hanya perasaan saja. Meskipun ada juga saat-saat dimana saya merasa kehilangan kontrol pada diri saya yang kemudian membuat saya bertindak menurut emosi saya. Namun, setelah itu, saya sadar kalau (menurut logika saya) saya tidak boleh begitu. Akhirnya kemudian saya kembali ke kontrol saya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Apa ini salah? Saya tidak tahu juga.

Selama beberapa hari kemudian saya mulai mencari alasan kenapa saya seperti itu. Lalu saya pun berkesimpulan sementara kalau pada dasarnya, saya merasa “otak” saya lebih bisa dipercaya daripada “hati” saya. Menurut saya, perasaan adalah hal yang labil, yang mampu berubah-ubah, yang karena ke-labil-annya, sangat riskan untuk percaya hanya kepada perasaan. Tapi, kalau sampai tidak melibatkan perasaan lagi? Apa mungkin saya sudah kebabalasan? Mungkin. Bahkan (menurut teman sarjana psikologi saya itu) kadang saya punya kecenderungan untuk “terlalu memikirkan segala sesuatu” (yang mungkin akan membawa saya kepada keadaan psikiatri yang patologis hahahahaha… *amit-amit*)

Yang agak gawat menurut saya dan teman jauh saya ini adalah… karena kami juga menerapkan azas “berpikir” ini dalam hubungan percintaan. Kami berpikir kalau “Cinta itu memilih, bukan dipilih” Maksudnya apa? Ketika saya bilang bahwa saya mencintai, itu artinya saya memilih dengan sadar untuk mencintai orang itu, dan akan memilih berkomitmen untuk terus dengan dia. Memang, rasa tertarik juga harus ada, tapi menurut saya itu adalah sign awal-nya saja, bukan merupakan hal yang akan bertahan lama. Untuk saya, yang akan bertahan setelah rasa tertarik itu hilang adalah komitmen bahwa saya akan terus bersama dengan orang yang saya pilih dan memilih saya. Apa itu salah? Saya tidak tahu juga. Saya pikir saya bisa berkata seperti itu karena melihat contoh-contoh yang ada dalam hidup saya, yang tentu saja adalah pengalaman orang lain, termasuk orang tua saya.

Lucunya, beberapa hari kemudian, saya terlibat percakapan yang sangat panjang dengan beberapa teman, yang kalau dibuat skenario sinetron, saya yakin Cinta Fitri pun kalah panjangnya hahaha..*berlebihan* Yah, inti dari pembicaraan kami adalah: kita tidak bisa memilih kapan atau dengan siapa kita akan jatuh cinta. Dan ketika merasakan si “jatuh cinta” itu, kita bisa saja melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahasa bagusnya: “melakukan hal gila dan bodoh demi cinta”. Dalam rangka mencoba merasakan apa yang teman-teman saya sedang rasakan, saya pun berpikir : “Dalam hidup saya yang sangat flat ini, pernah gak ya saya merasa begitu?”

Kemudian ingatan saya kembali ke 11 tahun yang lalu, dimana (mungkin) saya pernah merasakan hal yang sama dengan yang sedang dirasakan teman-teman saya ini. Kurang gila apa saya? Ohh atau lebih tepatnya….kurang bodoh apa saya? hahaha… Ketika tahu bahwa yang dilakukan adalah hal yang salah kepada orang yang salah, tapi tetap saja dilakukan, apa itu bukan bodoh? Sempat terbersit dalam pikiran saya; kalau kejadian itu terjadinya di masa sekarang, apa respon saya masih akan sama seperti waktu itu? Hmmm… mungkin berbeda ya.. mungkin. Saya tidak tahu juga. Ah, ya sudahlah. Mari kita tidak usah berandai-andai lagi….Intinya adalah, saya mengerti lah bagaimana kira-kira perasaan teman-teman saya saat ini.

Nah, dihadapkan pada 2 keadaan yang berbeda dari teman-teman sepermainan saya ini, saya jadi banyak berpikir (lagi): jadi saya setuju dengan yang mana? Apakah cinta itu adalah “pilihan” atau cinta itu adalah sesutu yang “dipilihkan”? Jujur, saya bingung juga, karena sedikitnya referensi dalam hidup saya. Kalau memang “memilih” artinya yang selama ini saya dan teman jauh saya pikirkan sudah benar. Dan apa yang saya lakukan selama 1,5 tahun terakhir ini juga sudah benar. Tapi, kalau ternyata memang “dipilihkan”, wah berarti saya masih harus menunggu (lagi) sampai rasa “jatuh cinta” itu dianugerahkan kepada saya.

Kenapa saya bilang referensi saya sedikit? Bukan karena fakta bahwa saya belu pernah punya pacar. Tapi, selama 24 tahun hidup, saya baru mengenal 2 pribadi yang benar-benar saya yakin mencintai saya. Pertama, Tuhan, yang saya yakin sekali cinta sama saya. Tidak perlu dijelaskan lagi. Yang kedua adalah Ibu saya, yang kalau tidak cinta sama saya, saya pasti sudah dibuang Beliau ke panti asuhan karena bandelnya anak bungsu-nya ini. Lalu respon dari saya? Yah, saya masih berusaha sebaik mungkin untuk mengekspresikan cinta saya juga kepada 2 pribadi ini. Meskipun, sering sekali fail ya… terutama pada pribadi yang pertama. Saya pun masih berjuang untuk memberikan hadiah untuk ibu saya, sebagai tanda kalau saya cinta sekali pada Beliau. Apa itu? Kelulusan saya. Saya rasa, itu adalah hadiah yang paling ditunggu yang paling bisa saya berikan untuk ibu saya (saat ini).Semoga Tuhan yang sangat mencintai saya mengijinkan saya untuk memberikan hadiah kepada Ibu yang sudah sangat mencintai saya.

Lalu…kalau dikaitkan kembali dengan “cinta kepada lawan jenis”, apa sama rasanya dengan mencintai Tuhan atau mencintai Ibu saya? I can’t tell…

 

With Love,

Marisa

Thursday, January 3, 2013

Addiction

…It's shocking how many kinds of addiction exist. It would be too easy if it were just drugs and booze and cigarettes. I think the hardest part of kicking a habit is wanting to kick it. I mean, we get addicted for a reason, right? Often, too often, things that start out as just a normal part of your life at some point cross the line to obsessive, compulsive, out of control. It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away. –Meredith Grey, Love/Addiction-

Pernah kecanduan? hehehe..

Biasanya kalo denger kata “kecanduan”, otak kita akan langsung menghubungkan dengan minuman beralkohol, rokok, atau obat2 terlarang. Padahal, gak selalu itu aja lho. Kadang-kadang kita bisa kecanduan dengan suatu keadaan. Errr… mungkin agak berlebihan ya kalo dibilang “kecanduan”. Kalo mau diperhalus, yaaa bisa lah diganti dengan "kebiasaan yang berlebihan”. hahahaha… Gak signifikan amat ya bedanya.

Menurut Wikipedia;

Addiction is the continued use of a mood altering substance or behaviour despite adverse consequences, or a neurological impairment leading to such behaviors. Classic hallmarks of addiction include: impaired control over substances/behavior, preoccupation with substance/behavior, continued use despite consequences, and denial

Jadi, kalo menurut hemat gw, ada kata kunci dari si kecanduan ini, “continued use”. Mungkin, sebenernya “hal” itu adalah hal yang sangat simple., biasa ada dalam hidup seseorang. Tapi, karena ada suatu pencetus, yang mungkin bahkan tidak disadari kalo itu akan menjadi pencetus, tiba-tiba si “hal biasa” itu dilakukan terus-menerus. Ketika “hal” itu dilakukan terus-menerus, rutin, tidak pernah tidak dilakukan, “hal” itu akan menjadi kebiasaan. Ketika suatu “hal” itu  akhirnya jadi kebiasaan, lama-lama lo jadi kehilangan kontrol lagi terhadap “hal” tersebut. Lo jadi keasikan, bahkan ketika lo tau kalo “hal” itu nantinya akan berakibat buruk pada lo. Akhirnya, yang bisa dilakukan cuma denial. Berpura – pura kalo “hal” itu oke kalo dilakukan. Mencari sejuta alasan dan pembenaran, demi untuk mencuri waktu  menikmati kecanduan lo itu. Kenapa sih harus segitu berjuangnya demi “hal” itu? Karena ketika lo melakukan “hal” itu, lo merasa sudah melakukan “sesuatu”; lo akan merasa sangat senang dan hal-hal yang tadinya bisa membuat lo merasa senang, jadi terasa biasa aja.

…It's the high we're chasing, the high that makes everything else fade away…

Menurut Wikipedia lagi,

Physiological dependence occurs when the body has to adjust to the substance by incorporating the substance into its 'normal' functioning. This state creates the conditions of tolerance and withdrawal. Tolerance is the process by which the body continually adapts to the substance and requires increasingly larger amounts to achieve the original effects. Withdrawal refers to physical and psychological symptoms people experience when reducing or discontinuing a substance the body had become dependent on. Symptoms of withdrawal generally include but are not limited to anxiety, irritability, intense cravings for the substance, nausea, hallucinations, headaches, cold sweats, and tremors.

Seiring berjalannya waktu lo melakukan “hal” yang lo sukai itu, tubuh (dan pkiran lo) akan mulai meng-adjust dirinya. Otak lo akan mulai memrogram kalo “setiap waktu tertentu, gw harus melakukan “hal” itu”. Lalu, tubuh lo akan secara otomatis bergerak untuk melakukan “hal” tersebut. Aneh ya? Itulah fisiologi. Padahal tadinya kebiasaan itu tidak ada, tapi ajaibnya tubuh lo secara otomatis dan cepatnya akan bertoleransi lalu beradaptasi dengan hal baru tersebut. Ketika tubuh lo sudah berhasil beradaptasi sampai “dosis” tertentu, secara otomatis tubuh dan otak lo akan meminta “dosis” yang lebih, untuk menjaga efek dari kebiasaan itu. Hahaha… manusiawi sekali ya, gak pernah merasa puas. hahahaha….

Nah, yang jadi masalah adalah kalo pada suatu saat, lo tidak bisa lagi melakukan kebiasaan itu. Secara terpaksa, tiba-tiba, atau bisa juga lo akhirnya menyadari kalo kebiasaan ini sudah terlalu mengganggu hidup lo sehingga secara sukarela lo mencoba menghentikan kebiasaan itu. Tapi yang namanya sudah jadi kebiasaan, akan sangat sulit untuk berubah.  Lo akan merasa terganggu, gak tenang, gelisah, sakit, atau segala gejala lain yang mungkin aja terjadi ketika lo mencoba untuk menghilangkan kebiasaan itu. Lalu, ada fase dimana lo akan jadi lebih ingin untuk melakukan kebiasaan itu. Lo akan melakukan segala macam usaha untuk melakukan kebiasaan itu lagi, bahkan mungkin aja usaha yang sekarang akan lebih keras daripada yang sebelumnya. Kenapa? Karena lo mau merasakan “perasaan itu” lagi. Perasaan senang ketika lo melakukan kebiasaan itu. Perasaan guilty pleasure, bahkan ketika lo tau apa yang lo lakukan itu akan merusak. Hahaha..hipokrit banget ya? Katanya mau menghilangkan kebiasaan, tapi malah jadi lebih pengen, lebih penasaran, lebih kepikiran terhadap si kebiasaan itu. Yah, tapi itulah. Gak bisa begitu aja menyingkirkan hal yang sudah sekian lama jadi bagian hidup kita. Bahkan dengan tekad sekeras batu pun, akan ada fase dimana kita ingin merasakan kenyamanan ketika melakukan kebiasaan itu. 

The thing about addiction is, it never ends well. Because eventually, whatever it is that was getting us high, stops feeling good, and starts to hurt. Still, they say you don't kick the habit until you hit rock bottom. But how do you know when you are there? Because no matter how badly a thing is hurting us, sometimes, letting it go hurts even worse. – Meredith Grey, Love/Addiction-

Ya, ketika seseorang sadar dia telah kecanduan, biasanya sudah dalam tahap yang sudah lanjut; dalam tahap yang sudah sangat merusak hidup. Seseorang akan sadar sesuatu itu buruk, kalo hal itu sudah menyakiti dirinya. Kalau belum, ya pasti akan dilajutkan lah ya….hahahaha… Untuk kembali ke kehidupan awal sebelum kecanduan, itu akan susah banget; dan prosesnya akan amat sangat menyakitkan.

Pertama, lo harus siap untuk merasa kecewa karena ternyata lo sudah tidak bisa lagi melakukan kebiasaan lo. Lo harus rela untuk sakit hati karena tidak bisa mendapatkan “kesenangan” itu lagi. Lo bahkan harus rela kalo sesuatu itu pada akhirnya tidak akan menjadi bagian dari hidup lo lagi. Kedua, lo harus siap kalo tiba-tiba otak dan tubuh lo mulai “nagih” untuk melakukan kebiasaan itu lagi. Lo harus dengan sekuat tenaga menahan, mencari bantuan orang lain atau teman, atau mencari kesibukan agar pikiran lo teralihkan. Mungkin ini termasuk denial, tapi akhirnya lo gak akan peduli lagi. Lo akan melakukan apa saja asal lo bisa melalui kegilaan ini dengan cepat. Sangat cepat.

Hahahaha..lagi-lagi gw membuat tulisan yang random. Yah, namanya juga blog sendiri, boleh nulis apa aja dong? mwihihihihihi… Semoga setelah ini akhirnya gw “kecanduan” hal-hal yang berguna ya… *halah*

 

Randomly,

Marisa