Gw cuma sedang berpikir dengan randomnya..
Apa sih sebenernya yang dimaksud dengan kehilangan??
Kalo menurut KBBI, hilang itu sendiri berarti:v 1. tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan; 2 tidak ada lagi perasaan (spt marah, jengkel, suka, duka), kepercayaan, pertimbangan, dsb; 3 tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi; lenyap; 4 tidak ada, tidak kedengaran lagi (tt suara, bunyi, dsb; 5 meninggal. Sedangkan, kehilangan itu artinya: 1 n hal hilangnya sesuatu; kematian; 2 v menderita sesuatu krn hilang.
Jadi, kalo mau disebut kehilangan itu, apa harus bener-bener ga bisa diliat lagi? Dalam arti, panca indera lo udah ga bisa meng-indera si “sesuatu” itu lagi? Jadi kalau mau bilang “sesuatu” hilang, “sesuatu” itu harus sudah jadi milik kita ya? Kalo masih bisa di-indera, tapi sudah bukan milik lo lagi, atau sudah tidak dalam keadaan yang sama dengan yang dulu lagi, bisa gak dibilang itu “hilang” juga?
Post gw sebelumnya, isinya cuma qoutes dari Grey’s Anatomy.
There is a reason I said I'd be happy alone. It wasn’t because I thought I would be happy alone. It was because I thought if I loved someone and then it fell apart, I might not make it. It's easier to be alone. Because what if you learn that you need love and then you don't have it? What if you like it and lean on it? What if you shape your life around it and then it falls apart? Can you even survive that kind of pain? Losing love is like organ damage. It's like dying. The only difference is, death ends. This? It could go on forever . . . (Meredith) – Grey’s Anatomy - Unaccompanied Minor.
Gw ngepost itu bukan dengan maksud gw mau selamanya sendirian lho.. hahaha.. Tapi, ada bagian yang membuat gw setuju… Menurut gw, relationships are so freaking complicated.. Any kind of it. Bukan cuma hubungan antara wanita dan pria, tapi termasuk juga hubungan antara anak-orang tua, sesama rekan kerja, temen, atau sebuah kelompok persahabatan.
Kenapa sih bisa ada ke-complicated-an itu? Yah, kalo menurut gw, karena lo mengharapkan “sesuatu” dari hubungan yang lo bangun dengan “rekan” lo itu, atau bahkan lo menggantungkan hidup lo pada hubungan itu. Ketika hubungan itu tidak berjalan seperti apa yang lo harapkan, atau respon si “rekan” tidak sesuai dengan yang lo harapkan, akan timbul rasa kecewa. Eh tapi “mengharapkan sesuatu” itu bukan berarti “pamrih” lho ya… At least, lo mengharapkan si “rekan” lo akan memberi respon yang baik juga terhadap itikad baik lo… Tapi, ketika lo merasa responnya tidak sesuai, kecewa gak sih? Misalnya, ketika lo bertanya pada seorang teman “apa kabar?”, tp si teman malah bilang “lo siapa? sok care banget” Kesel gak? Kesel dong… hahaha… Semakin besar lo berharap pada hubungan itu, maka akan semakin besar juga nantinya rasa kecewa yang akan lo alami. Itu berbanding lurus.
Nah,yang membuat tambah complicated lagi adalah ketidakmampuan kita untuk menyampaikan rasa “kecewa” itu kepada si rekan. Kenapa? Karena gak enak mungkin, atau gak tau gimana harus nyampeinnya, atau udah disampein, tapi si rekan ini gak ngerti-ngerti juga. Kalo disampein sih sebenernya, bisa lah masalahnya diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat hehehe… Yah, memang sih, ada aja masalah yang gak segampang itu untuk diselesaikan. Tapi, dengan itikad dan usaha yang baik (dan keras) dari kedua pihak, gw rasa bisa lah ya…(seharusnya) hohoho…
Jadi, kalo sudah merasa kecewa, apalagi kalo kecewanya sudah berkali-kali, biasanya sih kalo gw, gw akan males untuk melakukan lagi hal yang gw tau akan membuat gw merasa kecewa (lagi). Kenapa? Ya karena gak enaknya rasa kecewa itu. Ada gak sih orang yang mau megang panci yang lagi ditaro di atas kompor setelah tangannya pernah melepuh gara-gara itu? Yaaa..selain lagi latihan debus atau saraf sensorisnya udah putus semua, gw rasa semua orang normal akan gak suka dengan “ketidaknyamanan”. Orang tersebut secara refleks akan langsung menarik tangannya dari si panci panas. Artinya? Orang suka dengan sesuatu yang nyaman dan akan menghindari sesuatu yang tidak nyaman itu.
So, jalan keluarnya? Bagaimana bisa terhindar dari kekecewaan? Kalo disimpulin, menurut gw ada 2 jalan keluarnya…
-
Jangan terlalu berharap dari relationship yang lo bangun, atau
-
Jangan punya relationship sekalian…
It’s better and much easier to be alone, right? Hahahaha….
Apalagi kalo hal-hal begini terjadi dalam hal hubungan antara pria dan wanita yang kita sebut sebagai hubungan “asmara”. Efeknya?? Gak usah ditanya…
…Because what if you learn that you need love and then you don't have it? What if you like it and lean on it? What if you shape your life around it and then it falls apart?…
Akan jadi lebih lucu lagi kalo ternyata yang berharap cuma elo doang… Berharap pada sesuatu yang tidak pasti, yang belum ada dalam genggaman; sudah menumpuk mimpi-mimpi dan angan-angan indah dengan orang yang bahkan gak tau kalo lo berharap sama dia. Ketika ternyata tidak ada respon yang baik dan harapannya hancur, kebayang gak sih kecewanya gimana? Mungkin lo sudah melakukan berbagai tindakan preventif ya untuk menghindari kekecewaan itu. Lo sudah membangun tembok bahkan membentengi diri lo dengan berbagai macam teori dan logika. Berharap dengan logika itu lo akan bisa memilih, apakah gw akan melanjutkan berharap atau tidak. Berharap dengan logika ini, lo bisa terhindar dari rasa kecewa karena terlalu banyak berharap atau rasa menyesal karena menyerah sebelum waktunya. Semua dipertimbangkan dengan logika. Tapi… kadang-kadang hati sama otak itu gak sinkron. Lo takut untuk “getting burned” tapi lo tetep mau mencoba. Elo takut, kalo lo gak nyoba, lo akan menyesal di kemudian hari. Ada aja suara di balik akal sehat lo yang selalu berbisik “Coba dulu aja lah, siapa tau bisa…”, meskipun elo ketakutan setengah mati untuk merasa kecewa karena gagal pada akhirnya. Masalahnya, ketika lo tidak bisa mempertahankan logika lo berjalan dengan semestinya dan memutuskan untuk melanjutkan harapan, itu adalah point of no return. Lo akan mulai untuk melakukan segala macam cara untuk mewujudkan harapan lo. Apapun itu. Semua yang bisa dilakukan untuk mendapatkan harapan lo akan dilakukan, dan sepertinya semuanya punya kesempatan yang sama untuk berhasil. Tapi nanti, di suatu saat, ada aja suatu titik dimana lo akan berhenti berjuang dan menyerah. Atau….lo terpaksa untuk berhenti dan menyerah. Entah karena lo sudah merasa capek; entah lo tetiba sadar bahwa lo akan kecewa; atau ketika lo harus mundur untuk sebuah alasan yang jauh lebih “mulia” daripada sebuah cinta-cinta- an, apakah itu atas nama persahabatan atau “gak mau merusak hubungan yang baik seperti sekarang” atau demi kepentingan orang banyak yang kepentingannya jauh di atas kepentingan lo. Sayangnya, ketika saat itu lo mau kembali ke titik awal (dimana tadinya lo masih bisa memilih), lo sudah “tercebur” terlalu jauh dan terlalu dalam untuk bisa balik lagi.
Nah, kalo ada pertanyaan “Bisa balik lagi gak sih?” Ya harusnya sih jawabanya “Bisa”” ya. Tapi… itu artinya, lo harus melakukan segenap usaha untuk mengembalikan (lagi) logika lo, membangun kembali tembok-tembok yang sudah runtuh karena keputusan lo, menata kembali akal sehat lo, bahkan sampai mendoktrin diri lo sendiri kalo lo harus kembali “normal” tanpa adanya harapan-harapan bodoh itu. Dan biasanya, membangun itu lebih susah daripada meruntuhkan. Liat aja metabolisme. Anabolisme itu membutuhkan energi yang lebih besar daripada katabolisme. Membangun kembali logika sambil berusaha untuk gak melanjutkan harapan itu 2x lipat susahnya daripada mundur dari awal.
Ketika yang berharap cuma lo doang, dan tidak ada respon yang sesuai, maka kemudian lo akan merasa kecewa. Ketika lo tidak berhasil mendapatkan apa yang lo harapkan, lo akan kecewa dan akhirnya lo akan merasa kehilangan. Apa yang hilang? Ya si “keinginan” lo itu. Sesuatu yang lo inginkan, sudah lo usahakan, tapi pada akhirnya tidak didapatkan; rasanya pasti kehilangan.
….Can you even survive that kind of pain?…
Tapi, kalo dipikir lagi, sebenernya boleh gak sih kalo merasa kehilangan? To be honest, lo kan gak kehilangan apa-apa? Dari awalnya, orang itu memang bukan punya lo. Jadi kalo pada akhirnya lo tidak mendapatkan orang yang menjadi harapan lo, ya keadaannya akan tetap sama kan? Lo tidak kehilangan apa-apa karena memang lo tidak pernah punya apa-apa.
Gampang ya diomonginnya..hahaha.. Tapi sekali lagi, hati dan otak itu seringkali gak sinkron. Biasanya kita akan terus bertahan dengan kengototan kita bahkan ngeyel kalo kita sudah kehilangan sesuatu, padahal kita tau kalo itu gak bener. Akhirnya? Kita yang menderita karena merasa kehilangan. Kita aja. Dia? Hahaha… Mana dia tau.. Dia aja gak tau kalo kita berharap sama dia. hahahaha….
…Losing love is like organ damage. It's like dying. The only difference is, death ends. This? It could go on forever . . .
Jadi, harus gimana dong?
Umm…yaahh… Kalo menurut hemat gw sih, harus mulai belajar ikhlas ya. Hahahaha… Ikhlas untuk nerima kalo harapan lo itu gak tercapai atau… belum tercapai. Bukan karena lo kurang berusaha, tapi pada akhirnya kita harus sadar dan berusaha menerima serta percaya kalo Tuhan akan memberi yang lebih baik, dan pastinya adalah yang terbaik. Yang lo inginkan sekarang, yang lo pikir dengan logika lo adalah yang paling baik untuk lo, belum tentu adalah yang terbaik kan? Siapa sih yang tau apa yang jadi rencana Tuhan untuk masing-masing orang?
Gw tau lah gimana susahnya belajar untuk “ikhlas” itu. Rasanya seperti mengiris-iris hati sendiri. Ketika lo gak suka dengan suatu keadaan, tapi lo sadar lo gak bisa marah dan harus ikhlas, lo cuma bisa diem dan berharap kekesalan dan emosi lo akan hilang dengan seiring waktu. Beda tipis sih ya antara “nerima keadaan” dengan “denial”. Apapun itu, pada akhirnya lo akhirnya gak akan peduli lagi. Lo cuma berharap lo bisa melalui keadaan itu dengan kepala tetap dingin dan attitude tetap baik. Ketika emosi yang sudah lo pendam itu bertumpuk dan memuncak, lo juga gak bisa marah ke siapa-siapa. Kenapa? Karena lo sebenarnya sudah tau risikonya, tapi lo sendiri yang menceburkan diri lo ke dalam “masalah” itu. Ketika akhirnya si “risiko” itu dateng, yaaa…. terima aja lah ya. Hahahaha…
Hmm… mungkin dengan percaya aja bahwa setiap kejadian, setiap hubungan tidak akan ada yang sia-sia, akan membantu banget ya. Ketika lo gagal dengan yang ini, pengalaman ini akan mempersiapkan lo untuk yang berikutnya. Harapannya, lo sudah akan bener-bener siap ketika yang tepat itu datang….. Kalo katanya seorang temen gw: “Kalo emang Tuhan ijinkan, pasti akan dibukakan jalannya kok.” Nah, jadi? Sekarang kita tinggal ikhlas aja kan? Dan menyerahkan masalah yang sebetulnya-tidak-terlalu-ekstravaganza-tapi-suka-dilebih—lebihkan ini kepada Tuhan. Kalau kita sudah bisa ikhlas, gw yakin kalo itu yang namanya move on. Ikhlas kalo yang sudah lewat itu memang bukan untuk kita, dan kita belajar dari yang kemarin untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan yang lebih baik. Kalo ada seseorang bilang dia sudah move on tapi tetep blom bisa ikhlas, gw rasa itu namanya denial…
Etapi, kalo ternyata kita udah nyerah trus orang itu baru sadar kalo dia ngelewatin hal yang baik gimana? Yaaaa…itu sih deritanya dia… hahahaha…
Nb: Ini bukan tulisan ilmiah lho ya… Just my random thought…hahahaha…