“Love is like handing someone a gun, having them point it at your heart, and trusting them to never pull the trigger.” Michael Gardner
Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya yang sedang ada jauh dari Jakarta tetiba BBM di tengah malam untuk ngobrol-ngobrol. Setelah ngobrol singkat, akhirnya si teman ini cerita tentang “suatu hal” dalam hubungannya sekarang dengan pacarnya. Yah, inti dari ceritanya adalah kebingungan dia tentang : “sebenernya gw suka gak sih sama cowok gw? kok rasanya gw ga ada jealous-nya sama sekali ya?” Waktu ditanya ini, saya merasa lucu, karena sebenarnya, saya pun sedang memikirkan hal yang serupa walaupun tidak sama persis dalam beberapa hari belakangan. Ya tentunya bukan dalam konteks saya dan pacar saya, karena toh saya belum punya pacar.. Selain itu, kalau dalam konteks saya pun tidak sama. Karena, saya bukannya “tidak jealous sama sekali”… semua orang juga tahu kalo saya “jealous-an” sekali… hahahaha…
Jadi…yang saya pikirkan adalah : “sebenarnya bagaimana sih yang namanya perasaan ‘cinta’ itu?” Pemikiran ini memang agak random ya, mungkin juga karena hawa-hawa bulan Februari yang identik dengan Valentine hahahaha.… Hmmm, jujur saja, saya agak khawatir kalau sebenarnya selama ini saya belum pernah merasakan apa yang namanya “cinta” itu sendiri. Bahkan, setelah ada beberapa orang yang sangat saya sukai dalam hidup saya, rasanya…..saya tidak tahu apakah tepat kalau rasa suka itu saya sebut sebagai “cinta”. Tentu saja yang dibicarakan di sini adalah “cinta terhadap lawan jenis” ya. Karena kalau dengan sesama jenis, tentu saja beda dong “cinta-“nya…hahahaha..
Setelah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan teman dari jauh ini, dan teringat juga dengan obrolan saya dengan seorang teman yang adalah sarjana psikologi, saya pun akhirnya mengambil kesimpulan kalau saya, Marisa Thimang, adalah orang yang lebih banyak “berpikir” daripada “merasakan”. Saya lebih banyak menggunakan pikiran saya ketika bertindak atau menghadapi suatu keadaan. Saya berusaha merasionalisasi segala sesuatu, menganalisa segala sesuatu, berusaha mencari alasan rasional di balik segala sesuatu, dan jarang untuk menggunakan hanya perasaan saja. Meskipun ada juga saat-saat dimana saya merasa kehilangan kontrol pada diri saya yang kemudian membuat saya bertindak menurut emosi saya. Namun, setelah itu, saya sadar kalau (menurut logika saya) saya tidak boleh begitu. Akhirnya kemudian saya kembali ke kontrol saya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Apa ini salah? Saya tidak tahu juga.
Selama beberapa hari kemudian saya mulai mencari alasan kenapa saya seperti itu. Lalu saya pun berkesimpulan sementara kalau pada dasarnya, saya merasa “otak” saya lebih bisa dipercaya daripada “hati” saya. Menurut saya, perasaan adalah hal yang labil, yang mampu berubah-ubah, yang karena ke-labil-annya, sangat riskan untuk percaya hanya kepada perasaan. Tapi, kalau sampai tidak melibatkan perasaan lagi? Apa mungkin saya sudah kebabalasan? Mungkin. Bahkan (menurut teman sarjana psikologi saya itu) kadang saya punya kecenderungan untuk “terlalu memikirkan segala sesuatu” (yang mungkin akan membawa saya kepada keadaan psikiatri yang patologis hahahahaha… *amit-amit*)
Yang agak gawat menurut saya dan teman jauh saya ini adalah… karena kami juga menerapkan azas “berpikir” ini dalam hubungan percintaan. Kami berpikir kalau “Cinta itu memilih, bukan dipilih” Maksudnya apa? Ketika saya bilang bahwa saya mencintai, itu artinya saya memilih dengan sadar untuk mencintai orang itu, dan akan memilih berkomitmen untuk terus dengan dia. Memang, rasa tertarik juga harus ada, tapi menurut saya itu adalah sign awal-nya saja, bukan merupakan hal yang akan bertahan lama. Untuk saya, yang akan bertahan setelah rasa tertarik itu hilang adalah komitmen bahwa saya akan terus bersama dengan orang yang saya pilih dan memilih saya. Apa itu salah? Saya tidak tahu juga. Saya pikir saya bisa berkata seperti itu karena melihat contoh-contoh yang ada dalam hidup saya, yang tentu saja adalah pengalaman orang lain, termasuk orang tua saya.
Lucunya, beberapa hari kemudian, saya terlibat percakapan yang sangat panjang dengan beberapa teman, yang kalau dibuat skenario sinetron, saya yakin Cinta Fitri pun kalah panjangnya hahaha..*berlebihan* Yah, inti dari pembicaraan kami adalah: kita tidak bisa memilih kapan atau dengan siapa kita akan jatuh cinta. Dan ketika merasakan si “jatuh cinta” itu, kita bisa saja melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahasa bagusnya: “melakukan hal gila dan bodoh demi cinta”. Dalam rangka mencoba merasakan apa yang teman-teman saya sedang rasakan, saya pun berpikir : “Dalam hidup saya yang sangat flat ini, pernah gak ya saya merasa begitu?”
Kemudian ingatan saya kembali ke 11 tahun yang lalu, dimana (mungkin) saya pernah merasakan hal yang sama dengan yang sedang dirasakan teman-teman saya ini. Kurang gila apa saya? Ohh atau lebih tepatnya….kurang bodoh apa saya? hahaha… Ketika tahu bahwa yang dilakukan adalah hal yang salah kepada orang yang salah, tapi tetap saja dilakukan, apa itu bukan bodoh? Sempat terbersit dalam pikiran saya; kalau kejadian itu terjadinya di masa sekarang, apa respon saya masih akan sama seperti waktu itu? Hmmm… mungkin berbeda ya.. mungkin. Saya tidak tahu juga. Ah, ya sudahlah. Mari kita tidak usah berandai-andai lagi….Intinya adalah, saya mengerti lah bagaimana kira-kira perasaan teman-teman saya saat ini.
Nah, dihadapkan pada 2 keadaan yang berbeda dari teman-teman sepermainan saya ini, saya jadi banyak berpikir (lagi): jadi saya setuju dengan yang mana? Apakah cinta itu adalah “pilihan” atau cinta itu adalah sesutu yang “dipilihkan”? Jujur, saya bingung juga, karena sedikitnya referensi dalam hidup saya. Kalau memang “memilih” artinya yang selama ini saya dan teman jauh saya pikirkan sudah benar. Dan apa yang saya lakukan selama 1,5 tahun terakhir ini juga sudah benar. Tapi, kalau ternyata memang “dipilihkan”, wah berarti saya masih harus menunggu (lagi) sampai rasa “jatuh cinta” itu dianugerahkan kepada saya.
Kenapa saya bilang referensi saya sedikit? Bukan karena fakta bahwa saya belu pernah punya pacar. Tapi, selama 24 tahun hidup, saya baru mengenal 2 pribadi yang benar-benar saya yakin mencintai saya. Pertama, Tuhan, yang saya yakin sekali cinta sama saya. Tidak perlu dijelaskan lagi. Yang kedua adalah Ibu saya, yang kalau tidak cinta sama saya, saya pasti sudah dibuang Beliau ke panti asuhan karena bandelnya anak bungsu-nya ini. Lalu respon dari saya? Yah, saya masih berusaha sebaik mungkin untuk mengekspresikan cinta saya juga kepada 2 pribadi ini. Meskipun, sering sekali fail ya… terutama pada pribadi yang pertama. Saya pun masih berjuang untuk memberikan hadiah untuk ibu saya, sebagai tanda kalau saya cinta sekali pada Beliau. Apa itu? Kelulusan saya. Saya rasa, itu adalah hadiah yang paling ditunggu yang paling bisa saya berikan untuk ibu saya (saat ini).Semoga Tuhan yang sangat mencintai saya mengijinkan saya untuk memberikan hadiah kepada Ibu yang sudah sangat mencintai saya.
Lalu…kalau dikaitkan kembali dengan “cinta kepada lawan jenis”, apa sama rasanya dengan mencintai Tuhan atau mencintai Ibu saya? I can’t tell…
With Love,
Marisa