For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen. -Romans 11:33-

Tuesday, February 19, 2013

Blog

Saya punya kesenangan baru akhir-akhir ini, yaitu blogwalking, atau bahasa sederhananya adalah jalan-jalan ke blog milik orang lain. Sistem yang saya lakukan adalah membuka blog teman saya, kemudian mencari link ke blog teman-dari-teman saya dan kemudian mencari link ke temannya yang lain lagi. Menyenangkan sekali lho! Saya jadi bisa melihat berbagai macam blog yang ditulis oleh berbagai macam orang (yang adalah teman saya sendiri atau mungkin juga tidak saya kenal) dengan gaya penulisan yang bermacam-macam juga. Saya paling senang dengan blog yang isinya pengalaman hidup sehari-hari yang ditulis dengan gaya yang lucu atau blog yang isinya tentang perenungan hidup. Dari setiap kejadian di tiap cerita, ada pelajaran yang bisa diambil dan direnungkan. Jadi bisa banyak belajar toh?
 
Nah, dari beberapa blog yang sudah saya baca sejauh ini, saya punya beberapa blog favorit. Salah satunya adalah blog yang ditulis oleh kakak senior saya di FKG UI, Kak Ade Paramitha. Seperti yang saya bilang tadi, blog ini isinya tentang kehidupan sehari-hari sih, tapi penulisannya bagus, dan ada pesan yang bisa diambil dari tiap ceritanya.
 
Hmmm… ada satu cerita yang menarik banget. Ini adalah post terbaru dari Ka Ade:

Love story

Posted by adeparamitha in Uncategorized. Tagged: brokenheart, Love, move on.

Everyone has their very own love story. I have heard many of them, the bad and ugly one in particular. I never say it was better or worse than the other. Each one of it feels like a sting.

Maybe you were abused. Maybe you were stood in uncertainty for a quite some times. Maybe you were cheated on. Maybe you were just left without any explanation. Maybe you were being hurt over and over again.

And then, you feel like a crap. All you want to do is just crawling in your bed for a week. Or crying your heart out alone in your room. Or begging for the second chance. Or struggling to deny everything. Or trying to figure out what is really wrong. Or watching every romantic movies with a happy ending. Or listening to every whining love song. And then, you try to make up your life. You make some differences. You have your hair cut. You laugh with your best friends. You dress up. You hang out. You meet a bunch of new people. But still, you feel empty. You still want to crawl in your bed for a week. You still cry in your room alone in the middle of the night. You still want everything didn’t change.
What I can say, if you want to cry, cry… Take as much time as you need to mend the broken pieces, because at some point you will move on. You must move on. Because they’ll move on. It just a matter of time who is going to move on first. Then, your story will be just a history. You will meet a new one. Maybe you’ll be broken again. But maybe, just maybe… You don’t.


Cheers,
Ade


Bagus kan? hahahahaha…

Sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa saya menge-post yang satu ini di blog saya.

Karena…… saya tahu saya ada dalam cerita itu. One of those love stories is mine.

Makasih Ka Ade…

 

Dengan penuh semangat membaca,
Marisa

Monday, February 18, 2013

(Not) Accidentally in Love….

“Love is like handing someone a gun, having them point it at your heart, and trusting them to never pull the trigger.”  Michael Gardner

Beberapa hari yang lalu, seorang  teman saya yang sedang ada jauh dari Jakarta tetiba BBM di tengah malam untuk ngobrol-ngobrol. Setelah ngobrol singkat, akhirnya si teman ini cerita tentang “suatu hal” dalam  hubungannya sekarang dengan pacarnya. Yah, inti dari ceritanya adalah kebingungan dia tentang : “sebenernya gw suka gak sih sama cowok gw? kok rasanya gw ga ada jealous-nya sama sekali ya?” Waktu ditanya ini, saya merasa lucu, karena sebenarnya, saya pun sedang memikirkan hal yang serupa walaupun tidak sama persis dalam beberapa hari belakangan. Ya tentunya bukan dalam konteks saya dan pacar saya, karena toh saya belum punya pacar.. Selain itu, kalau dalam konteks saya pun tidak sama. Karena, saya bukannya “tidak jealous sama sekali”… semua orang juga tahu kalo saya “jealous-an” sekali… hahahaha…

Jadi…yang saya pikirkan adalah : “sebenarnya bagaimana sih yang namanya perasaan ‘cinta’ itu?” Pemikiran ini memang agak random ya, mungkin juga karena hawa-hawa bulan Februari yang identik dengan Valentine hahahaha.… Hmmm, jujur saja, saya agak khawatir kalau sebenarnya selama ini  saya belum pernah merasakan apa yang namanya “cinta” itu sendiri. Bahkan, setelah ada beberapa orang yang sangat saya sukai dalam hidup saya, rasanya…..saya tidak tahu apakah tepat kalau rasa suka itu saya sebut sebagai “cinta”. Tentu saja yang dibicarakan di sini adalah “cinta terhadap lawan jenis” ya. Karena kalau dengan sesama jenis, tentu saja beda dong “cinta-“nya…hahahaha..

Setelah saya ngobrol-ngobrol lebih lanjut dengan teman dari jauh ini, dan teringat juga dengan obrolan saya dengan seorang teman yang adalah sarjana psikologi, saya pun akhirnya mengambil kesimpulan kalau saya, Marisa Thimang, adalah orang yang lebih banyak “berpikir” daripada “merasakan”. Saya lebih banyak menggunakan pikiran saya ketika bertindak atau menghadapi suatu keadaan. Saya berusaha merasionalisasi segala sesuatu, menganalisa segala sesuatu, berusaha mencari alasan rasional di balik segala sesuatu, dan jarang untuk menggunakan hanya perasaan saja. Meskipun ada juga saat-saat dimana saya merasa kehilangan kontrol pada diri saya yang kemudian membuat saya bertindak menurut emosi saya. Namun, setelah itu, saya sadar kalau (menurut logika saya) saya tidak boleh begitu. Akhirnya kemudian saya kembali ke kontrol saya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Apa ini salah? Saya tidak tahu juga.

Selama beberapa hari kemudian saya mulai mencari alasan kenapa saya seperti itu. Lalu saya pun berkesimpulan sementara kalau pada dasarnya, saya merasa “otak” saya lebih bisa dipercaya daripada “hati” saya. Menurut saya, perasaan adalah hal yang labil, yang mampu berubah-ubah, yang karena ke-labil-annya, sangat riskan untuk percaya hanya kepada perasaan. Tapi, kalau sampai tidak melibatkan perasaan lagi? Apa mungkin saya sudah kebabalasan? Mungkin. Bahkan (menurut teman sarjana psikologi saya itu) kadang saya punya kecenderungan untuk “terlalu memikirkan segala sesuatu” (yang mungkin akan membawa saya kepada keadaan psikiatri yang patologis hahahahaha… *amit-amit*)

Yang agak gawat menurut saya dan teman jauh saya ini adalah… karena kami juga menerapkan azas “berpikir” ini dalam hubungan percintaan. Kami berpikir kalau “Cinta itu memilih, bukan dipilih” Maksudnya apa? Ketika saya bilang bahwa saya mencintai, itu artinya saya memilih dengan sadar untuk mencintai orang itu, dan akan memilih berkomitmen untuk terus dengan dia. Memang, rasa tertarik juga harus ada, tapi menurut saya itu adalah sign awal-nya saja, bukan merupakan hal yang akan bertahan lama. Untuk saya, yang akan bertahan setelah rasa tertarik itu hilang adalah komitmen bahwa saya akan terus bersama dengan orang yang saya pilih dan memilih saya. Apa itu salah? Saya tidak tahu juga. Saya pikir saya bisa berkata seperti itu karena melihat contoh-contoh yang ada dalam hidup saya, yang tentu saja adalah pengalaman orang lain, termasuk orang tua saya.

Lucunya, beberapa hari kemudian, saya terlibat percakapan yang sangat panjang dengan beberapa teman, yang kalau dibuat skenario sinetron, saya yakin Cinta Fitri pun kalah panjangnya hahaha..*berlebihan* Yah, inti dari pembicaraan kami adalah: kita tidak bisa memilih kapan atau dengan siapa kita akan jatuh cinta. Dan ketika merasakan si “jatuh cinta” itu, kita bisa saja melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahasa bagusnya: “melakukan hal gila dan bodoh demi cinta”. Dalam rangka mencoba merasakan apa yang teman-teman saya sedang rasakan, saya pun berpikir : “Dalam hidup saya yang sangat flat ini, pernah gak ya saya merasa begitu?”

Kemudian ingatan saya kembali ke 11 tahun yang lalu, dimana (mungkin) saya pernah merasakan hal yang sama dengan yang sedang dirasakan teman-teman saya ini. Kurang gila apa saya? Ohh atau lebih tepatnya….kurang bodoh apa saya? hahaha… Ketika tahu bahwa yang dilakukan adalah hal yang salah kepada orang yang salah, tapi tetap saja dilakukan, apa itu bukan bodoh? Sempat terbersit dalam pikiran saya; kalau kejadian itu terjadinya di masa sekarang, apa respon saya masih akan sama seperti waktu itu? Hmmm… mungkin berbeda ya.. mungkin. Saya tidak tahu juga. Ah, ya sudahlah. Mari kita tidak usah berandai-andai lagi….Intinya adalah, saya mengerti lah bagaimana kira-kira perasaan teman-teman saya saat ini.

Nah, dihadapkan pada 2 keadaan yang berbeda dari teman-teman sepermainan saya ini, saya jadi banyak berpikir (lagi): jadi saya setuju dengan yang mana? Apakah cinta itu adalah “pilihan” atau cinta itu adalah sesutu yang “dipilihkan”? Jujur, saya bingung juga, karena sedikitnya referensi dalam hidup saya. Kalau memang “memilih” artinya yang selama ini saya dan teman jauh saya pikirkan sudah benar. Dan apa yang saya lakukan selama 1,5 tahun terakhir ini juga sudah benar. Tapi, kalau ternyata memang “dipilihkan”, wah berarti saya masih harus menunggu (lagi) sampai rasa “jatuh cinta” itu dianugerahkan kepada saya.

Kenapa saya bilang referensi saya sedikit? Bukan karena fakta bahwa saya belu pernah punya pacar. Tapi, selama 24 tahun hidup, saya baru mengenal 2 pribadi yang benar-benar saya yakin mencintai saya. Pertama, Tuhan, yang saya yakin sekali cinta sama saya. Tidak perlu dijelaskan lagi. Yang kedua adalah Ibu saya, yang kalau tidak cinta sama saya, saya pasti sudah dibuang Beliau ke panti asuhan karena bandelnya anak bungsu-nya ini. Lalu respon dari saya? Yah, saya masih berusaha sebaik mungkin untuk mengekspresikan cinta saya juga kepada 2 pribadi ini. Meskipun, sering sekali fail ya… terutama pada pribadi yang pertama. Saya pun masih berjuang untuk memberikan hadiah untuk ibu saya, sebagai tanda kalau saya cinta sekali pada Beliau. Apa itu? Kelulusan saya. Saya rasa, itu adalah hadiah yang paling ditunggu yang paling bisa saya berikan untuk ibu saya (saat ini).Semoga Tuhan yang sangat mencintai saya mengijinkan saya untuk memberikan hadiah kepada Ibu yang sudah sangat mencintai saya.

Lalu…kalau dikaitkan kembali dengan “cinta kepada lawan jenis”, apa sama rasanya dengan mencintai Tuhan atau mencintai Ibu saya? I can’t tell…

 

With Love,

Marisa